Untuk 84 Tahun PSSI
Menyaksikan Andik Vermasyah dan Taufik bermain tak ubahnya menyangsikan akal sehat PSSI. Betapa tidak, disaat otoritas sepak bola nasional itu tidak mengakui klub asal mereka-Persebaya (1927) Surabaya-,pada waktu bersamaan PSSI menerbitkan izin bermain untuk keduanya.
Andik memang tidak bermain di liga Indonesia musim ini. Arek Surabaya kelahiran Jember itu kini merumput di Malaysia dan berkostum Selangor FC. Urusan terbitnya izin bermain Andik memang menjadi domain federasi sepak bola Malaysia, FAM. Tapi, PSSI tetap memilik andil terkait terbitnya izin tersebut.
Sebagai pemain baru dari negara asing, tentu Andik harus menyertakan international transfer certificate (ITC) untuk bisa berlaga di Malaysia. Disini peran PSSI. Merekalah yang memiliki kewenangan menerbitkannya. Disini pula akal sehat PSSI dipertanyakan.
Read More..
20 April 2014
19 Februari 2014
Disorientasi Suporter
Warna Persebaya Surabaya adalah hijau. Tak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang. Tapi, dalam beberapa tahun belakangan selalu ada warna lain di tribun Gelora 10 November Surabaya. Begitupula di stadion anyar Surabaya : Gelora Bung Tomo. Selalu ada biru diantara hijau.
Pemandangan yang ganjil. Perpaduan yang tak lazim. Bukankah biru merupakan warna kebesaran Arema Malang-tim yang selalu berada di seberang mata dan hati pendukung Persebaya, Bonek.
Argumentasi yang mudah dipatahkan memang. Sebab, warna biru yang menyembul di Gelora 10 November maupun Gelora Bung Karno bukan seragam Arema. Tidakpula atribut Aremania-suporter Arema. Tapi, biru yang menjadi atribut Bobotoh-pendukung Persib Bandung. Kendati begitu, menyeruaknya warna biru itu sulit dinalar. Karena, sekali lagi, warna Persebaya adalah hijau. Read More..
Pemandangan yang ganjil. Perpaduan yang tak lazim. Bukankah biru merupakan warna kebesaran Arema Malang-tim yang selalu berada di seberang mata dan hati pendukung Persebaya, Bonek.
Argumentasi yang mudah dipatahkan memang. Sebab, warna biru yang menyembul di Gelora 10 November maupun Gelora Bung Karno bukan seragam Arema. Tidakpula atribut Aremania-suporter Arema. Tapi, biru yang menjadi atribut Bobotoh-pendukung Persib Bandung. Kendati begitu, menyeruaknya warna biru itu sulit dinalar. Karena, sekali lagi, warna Persebaya adalah hijau. Read More..
29 November 2013
Mari Berlari Rebut Medali
Surat Terbuka untuk Tim Nasional U-23
Jalan itu telah terbuka. Adik-adik kalian di tim nasional U-19 yang membukanya. Mereka telah memberikan bukti kalau Indonesia masih bisa juara. Seperti kalian ketahui, September lalu mereka menahbiskan diri sebagai juara Piala AFF U-19 di Sidoarjo.
Tak berhenti di situ, adik-adik kalian juga membuktikan kalau tim manapun dan setangguh apapun bisa dikalahkan. Kalian pasti menyaksikan-paling tidak mendengar-ketika mereka menjungkalkan Korea Selatan saat laga penyisihan grup Piala Asia U-19 dengan kemenangan 3-2 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Oktober lalu.
Ya Korea Selatan. Negara yang tidak pernah absen merumput di Piala Dunia sejak 1986. Korea Selatan yang sudah 12 kali memenangi Piala Asia U-19. Termasuk juara di edisi 2012 lalu. Read More..
Jalan itu telah terbuka. Adik-adik kalian di tim nasional U-19 yang membukanya. Mereka telah memberikan bukti kalau Indonesia masih bisa juara. Seperti kalian ketahui, September lalu mereka menahbiskan diri sebagai juara Piala AFF U-19 di Sidoarjo.
Tak berhenti di situ, adik-adik kalian juga membuktikan kalau tim manapun dan setangguh apapun bisa dikalahkan. Kalian pasti menyaksikan-paling tidak mendengar-ketika mereka menjungkalkan Korea Selatan saat laga penyisihan grup Piala Asia U-19 dengan kemenangan 3-2 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Oktober lalu.
Ya Korea Selatan. Negara yang tidak pernah absen merumput di Piala Dunia sejak 1986. Korea Selatan yang sudah 12 kali memenangi Piala Asia U-19. Termasuk juara di edisi 2012 lalu. Read More..
20 September 2013
Belum Waktunya Berpesta
Tak ada yang salah dengan selebrasi Evan Dimas Darmono. Tidakpula ada yang keliru dari selebrasi Ilham Udin Armaiyn. Begitupula perayaan yang dilakukan Indra Sjafri dan para asistennya serta offsial di pinggir lapangan saat gol tercipta.
Gol-gol yang dilesatkan para pemain Indonesia di ajang Piala AFF U-19 memang pantas dirayakan. Sebab, gol-gol tersebut merupakan buah kerja keras yang mereka bangun. Apalagi, datangnya gol juga tak pernah bisa ditebak. Kadang selama 90 menit pemain berpeluh di lapangan, gol yang dinanti tak kunjung diraih. Bisa juga dalam kurung waktu 2x45 menit, hanya lahir sebiji gol.
Karena itu, menjadi wajar kalau Evan Dimas dan kawan-kawannya-baik yang berada di lapangan maupun di bench-merayakan dengan beraneka ragam selebrasi. Semisal sujud syukur di sudut lapangan, bergoyang itik ala biduan Zaskia Gotik, atau membuat lingkaran lantas bergoyang bersama. Read More..
Gol-gol yang dilesatkan para pemain Indonesia di ajang Piala AFF U-19 memang pantas dirayakan. Sebab, gol-gol tersebut merupakan buah kerja keras yang mereka bangun. Apalagi, datangnya gol juga tak pernah bisa ditebak. Kadang selama 90 menit pemain berpeluh di lapangan, gol yang dinanti tak kunjung diraih. Bisa juga dalam kurung waktu 2x45 menit, hanya lahir sebiji gol.
Karena itu, menjadi wajar kalau Evan Dimas dan kawan-kawannya-baik yang berada di lapangan maupun di bench-merayakan dengan beraneka ragam selebrasi. Semisal sujud syukur di sudut lapangan, bergoyang itik ala biduan Zaskia Gotik, atau membuat lingkaran lantas bergoyang bersama. Read More..
24 April 2013
Persebaya dan Hati Masyarakat Surabaya
Untuk edisi ulang tahun PSSI ke 83
Ingat PSSI, ingat Persebaya Surabaya. Dan sejarah panjang itu tak pantas dihapus. Tak selayaknya hanya tinggal dijadikan kenangan.
Persebaya harus terus hidup dan dihidupkan. Sebab, Persebaya bukan lagi sekedar klub sepak bola. Persebaya adalah simbol perlawanan. Simbol kebanggaan. Juga salah satu ikon Surabaya. Persebaya juga menjadi tempat orang-orang Surabaya melepaskan diri dari himpitan kerasnya kehidupan.
Bicara Persebaya tentu saja Persebaya yang didirikan Paijo dan Pamoedji. Persebaya yang dilahirkan pada 18 Juni 1927 di Surabaya. Persebaya yang turut membidani lahirnya PSSI pada 19 April 1930 silam bersama perwakilan dari Madiun, Solo, Jogjakarta, Magelang, Bandung, serta Jakarta di Jogjakarta. Dan tentu saja Persebaya yang ada di hati masyarakat dan pencinta bola Surabaya. Read More..
Ingat PSSI, ingat Persebaya Surabaya. Dan sejarah panjang itu tak pantas dihapus. Tak selayaknya hanya tinggal dijadikan kenangan.
Persebaya harus terus hidup dan dihidupkan. Sebab, Persebaya bukan lagi sekedar klub sepak bola. Persebaya adalah simbol perlawanan. Simbol kebanggaan. Juga salah satu ikon Surabaya. Persebaya juga menjadi tempat orang-orang Surabaya melepaskan diri dari himpitan kerasnya kehidupan.
Bicara Persebaya tentu saja Persebaya yang didirikan Paijo dan Pamoedji. Persebaya yang dilahirkan pada 18 Juni 1927 di Surabaya. Persebaya yang turut membidani lahirnya PSSI pada 19 April 1930 silam bersama perwakilan dari Madiun, Solo, Jogjakarta, Magelang, Bandung, serta Jakarta di Jogjakarta. Dan tentu saja Persebaya yang ada di hati masyarakat dan pencinta bola Surabaya. Read More..
03 Maret 2013
Bintang Sepak Bola itu Pemain dan Pelatih
Secara personal saya tidak mengenal Djohar Arifin Husin. Begitupula La Nyalla Mahmud Mattalitti. Saya hanya tahu sedikit tentang mereka dari media massa. Kendati begitu, saya percaya mereka orang-orang yang baik. Orang-orang yang mencintai sepak bola.
Kalau tidak baik, mana mungkin Djohar mau memimpin organisasi sepak bola nasional yang karut-marut. Sudah begitu, kering prestasi pula. Bukankah akan jauh lebih baik baginya untuk mengajar di kampus. Atau melakukan penelitian yang bisa memberi manfaat untuk masyarakat luas.
Jika tidak mencintainya, buat apa La Nyalla rela membangun komite penyelamat sepak bola Indonesia. Lalu kembali duduk di kursi eksekutif komite PSSI. Padahal, sepak bola negeri ini sulit menerbitkan keuntungan. Bukankah jauh lebih menyenangkan baginya untuk memperluas jaringan bisnisnya yang bisa menambah pundi-pundi uangnya.
Tapi sayangnya, cinta mereka terlalu meluap-luap. Sehingga logikanya ditanggalkan. Juga hatinya. Saking cintanya, mereka melupakan esensi sejati sepak bola : permainan di lapangan hijau. Saking baiknya, keduanya alpa bahwa bintang sepak bola itu adalah pemain dan pelatih. Bukan lainnya. Read More..
Kalau tidak baik, mana mungkin Djohar mau memimpin organisasi sepak bola nasional yang karut-marut. Sudah begitu, kering prestasi pula. Bukankah akan jauh lebih baik baginya untuk mengajar di kampus. Atau melakukan penelitian yang bisa memberi manfaat untuk masyarakat luas.
Jika tidak mencintainya, buat apa La Nyalla rela membangun komite penyelamat sepak bola Indonesia. Lalu kembali duduk di kursi eksekutif komite PSSI. Padahal, sepak bola negeri ini sulit menerbitkan keuntungan. Bukankah jauh lebih menyenangkan baginya untuk memperluas jaringan bisnisnya yang bisa menambah pundi-pundi uangnya.
Tapi sayangnya, cinta mereka terlalu meluap-luap. Sehingga logikanya ditanggalkan. Juga hatinya. Saking cintanya, mereka melupakan esensi sejati sepak bola : permainan di lapangan hijau. Saking baiknya, keduanya alpa bahwa bintang sepak bola itu adalah pemain dan pelatih. Bukan lainnya. Read More..
12 November 2012
Indonesia, Piala AFF, dan Mursyid Effendi
Musryid Effendi tak akan pernah melupakan malam 31 Agustus 1998 di Ho Chi Minh, Vietnam. Malam itu Mursyid terpaksa menikam hatinya. Terpaksa melukai hati keluarganya. Juga hati masyarakat Indonesia.
Malam itu di Stadion Thong Nhat, Mursyid terpaksa menceploskan bola ke gawang negerinya sendiri. Indonesia pun kalah 2-3 dari Thailand. Caci maki, sumpah serapah, juga sanksi pun bertubi-tubi menghujam ke Mursyid.
”Saya adalah korban,” kata Mursyid saat kami berbincang beberapa tahun silam tentang malam kelam di Ho Chi Minh itu. Kalimat yang sama kembali diulangnya ketika kami bertemu akhir Oktober lalu.
Mursyid tak hendak membela diri. Arek Surabaya itu memang salah. Sebab, Mursyid dengan ”sengaja” mencetak gol ke gawangnya sendiri. Tapi, Mursyid hanya korban. Ada tangan-tangan yang memaksanya melakukan kesalahan itu. Ada pengurus teras PSSI di balik gol Mursyid. Adapula kuasa manajer tim yang kala itu dijabat Andri Amin.
Merekalah yang menikam hati masyarakat. Berdalih strategi menggapai juara, mereka merobek-robek bendera fairplay. Menginjak-injak sportifitas. Indonesia tak diperbolehkan menang di laga pamungkas grup A Piala Tiger-kini Piala AFF-kontra Thailand. Alasannya untuk menghindari Vietnam di semifinal.
Orang-orang itu berdalih Vietnam lebih kuat dibanding Singapura. Bukan saja dari segi materi, tapi juga sisi mental, karena Vietnam tuan rumah. Mereka berpikir jalan menuju tangga juara akan lebih mulus jika bersua Singapura di semifinal. Maka cara apapun mereka lakukan untuk itu, meski kotor. Celakanya, Thailand berpikir sama. Sempat bermain imbang 2-2, skor pun berubah menjadi kekalahan setelah Mursyid mencetak gol dipenghujung pertandingan.
Vietnam memang bisa dihindari. Tapi, malu tak bisa ditolak. Sebab, bangsa ini tercatat pernah memainkan sepak bola gajah. Yang lebih menyayat hati lagi, di akhir turnamen itu malah Singapura-tim yang disepelekan itu-yang menjadi juara. Hati masyarakat pun hancur. Begitupula dengan Mursyid. ”Sebab, orang-orang itu yang berjanji membela saya malah menuduh saya menerima suap,” ungkap Mursyid. Dan beban sejarah kelam itupun akan terus melekat dihidupnya.
Kesalahan itu tak selayaknya diulangi. Dan tak sepantasnya masyarakat kembali dilukai hatinya. Masyarakat sudah sangat rindu. Dahaga mereka sudah tak tertahankan. Sudah 21 tahun masyarakat menanti. Sejak terakhir kali Merah Putih berkibar tinggi di arena SEA Games 1991. Waktu penantian yang jelas tak pendek.
Apalagi, dalam penantian itu, celakanya seringkali kita terlalu sombong dengan mengganggap besar dan penting. Bahkan, acapkali kita sudah merasa seperti juara ketika kita baru sebatas meraih tiket final. Padahal, kita sudah semakin tertinggal.
Kini gelaran Piala AFF sudah di depan mata lagi. Jangan ada lagi kesalahan. Juga kesombongan. Selamat berjuang Pasukan Garuda. Seperti kata Nil Maizar bermainlah dengan hati. Hiraukan hiruk-pikuk orang-orang yang mengaku memahami sepak bola. Sebab, penantian panjang ini harus segera diakhiri. Read More..
Malam itu di Stadion Thong Nhat, Mursyid terpaksa menceploskan bola ke gawang negerinya sendiri. Indonesia pun kalah 2-3 dari Thailand. Caci maki, sumpah serapah, juga sanksi pun bertubi-tubi menghujam ke Mursyid.
”Saya adalah korban,” kata Mursyid saat kami berbincang beberapa tahun silam tentang malam kelam di Ho Chi Minh itu. Kalimat yang sama kembali diulangnya ketika kami bertemu akhir Oktober lalu.
Mursyid tak hendak membela diri. Arek Surabaya itu memang salah. Sebab, Mursyid dengan ”sengaja” mencetak gol ke gawangnya sendiri. Tapi, Mursyid hanya korban. Ada tangan-tangan yang memaksanya melakukan kesalahan itu. Ada pengurus teras PSSI di balik gol Mursyid. Adapula kuasa manajer tim yang kala itu dijabat Andri Amin.
Merekalah yang menikam hati masyarakat. Berdalih strategi menggapai juara, mereka merobek-robek bendera fairplay. Menginjak-injak sportifitas. Indonesia tak diperbolehkan menang di laga pamungkas grup A Piala Tiger-kini Piala AFF-kontra Thailand. Alasannya untuk menghindari Vietnam di semifinal.
Orang-orang itu berdalih Vietnam lebih kuat dibanding Singapura. Bukan saja dari segi materi, tapi juga sisi mental, karena Vietnam tuan rumah. Mereka berpikir jalan menuju tangga juara akan lebih mulus jika bersua Singapura di semifinal. Maka cara apapun mereka lakukan untuk itu, meski kotor. Celakanya, Thailand berpikir sama. Sempat bermain imbang 2-2, skor pun berubah menjadi kekalahan setelah Mursyid mencetak gol dipenghujung pertandingan.
Vietnam memang bisa dihindari. Tapi, malu tak bisa ditolak. Sebab, bangsa ini tercatat pernah memainkan sepak bola gajah. Yang lebih menyayat hati lagi, di akhir turnamen itu malah Singapura-tim yang disepelekan itu-yang menjadi juara. Hati masyarakat pun hancur. Begitupula dengan Mursyid. ”Sebab, orang-orang itu yang berjanji membela saya malah menuduh saya menerima suap,” ungkap Mursyid. Dan beban sejarah kelam itupun akan terus melekat dihidupnya.
Kesalahan itu tak selayaknya diulangi. Dan tak sepantasnya masyarakat kembali dilukai hatinya. Masyarakat sudah sangat rindu. Dahaga mereka sudah tak tertahankan. Sudah 21 tahun masyarakat menanti. Sejak terakhir kali Merah Putih berkibar tinggi di arena SEA Games 1991. Waktu penantian yang jelas tak pendek.
Apalagi, dalam penantian itu, celakanya seringkali kita terlalu sombong dengan mengganggap besar dan penting. Bahkan, acapkali kita sudah merasa seperti juara ketika kita baru sebatas meraih tiket final. Padahal, kita sudah semakin tertinggal.
Kini gelaran Piala AFF sudah di depan mata lagi. Jangan ada lagi kesalahan. Juga kesombongan. Selamat berjuang Pasukan Garuda. Seperti kata Nil Maizar bermainlah dengan hati. Hiraukan hiruk-pikuk orang-orang yang mengaku memahami sepak bola. Sebab, penantian panjang ini harus segera diakhiri. Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)