Dalam bahasa Jawa, gojek itu memiliki arti yang sama dengan guyon. Dan yang namanya guyon itu menyenangkan. Menyegarkan. Bisa mengendurkan ketegangan. Tidak jarang pula, dari guyonan lahir ide-ide segar.
Tapi, kalau guyonnya berlebihan tentu tidak baik. Sama halnya dengan segala sesuatu yang berlebihan. Bisa-bisa guyonan itu malah memicu ketegangan. Berpotensi memercikkan api perselisihan. Juga bisa melahirkan masalah.
Seperti itu juga kompetisi sepak bola Indonesia. PSSI tampak berlebihan memaknai titel liga yang digulirkannya. Induk organisasi sepak bola nasional itu terlalu gojekan dalam membuat regulasi.
Kompetisi kali ini pun berpotensi melahirkan para pemalas sekaligus membunuh harapan hidup banyak orang. Liga Indonesia musim ini terancam tidak kompetitif. Mengabaikan kesehatan finansial klub dan tak ramah kepada suporter.
Guyonan PSSI yang berlebihan ini juga melahirkan regulasi yang kontradiktif dan tentu saja menabrak aturan federasi sepak bola dunia yang selama ini diagung-agungkan PSSI.
Tak percaya? Tentu Anda tak seharusnya percaya kepada saya. Lha saya ini siapa kok mau dipercaya. Saya ini hanya penonton biasa. Nendang bola saja nggak becus. Lagipula, kompetisinya juga belum bergulir, belum jalan.
Tulisan ini merupakan usaha agar tidak dinilai menuduh.
Read More..
04 April 2017
14 November 2016
Sudahi Saja Sepak Bolanya
”Nama itu sudah dicoret”. Begitu kata Joko Driyono saat saya menyapa namanya lewat telepon beberapa saat setelah dirinya terpilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI, Kamis lalu (10/11). Kalimat itu mempertegas pesan pendek yang pernah dikirimnya sekitar empat tahun silam kepada saya. Bunyinya: Joko Driyono sudah tidak ada lagi.
Saya tidak mengenal dekat Joko Driyono. Saya hanya sedikit tahu kalau lelaki kelahiran Ngawi, Jawa Timur itu menggemari sepak bola. Seperti umumnya anak laki-laki, Joko muda pun tidak sekedar menontonnya. Tapi, juga memainkannya. Bahkan, dia nyaris berseragam Arseto Solo junior, sebelum akhirnya memutuskan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Waktu di Surabaya, Joko pun tak melulu berkegiatan di kampus. Tidak sekedar berkutat dengan buku. Dia juga pergi ke lapangan bola. Bergabung dengan kesebelasan lokal Surabaya: Putra Gelora. Read More..
Saya tidak mengenal dekat Joko Driyono. Saya hanya sedikit tahu kalau lelaki kelahiran Ngawi, Jawa Timur itu menggemari sepak bola. Seperti umumnya anak laki-laki, Joko muda pun tidak sekedar menontonnya. Tapi, juga memainkannya. Bahkan, dia nyaris berseragam Arseto Solo junior, sebelum akhirnya memutuskan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Waktu di Surabaya, Joko pun tak melulu berkegiatan di kampus. Tidak sekedar berkutat dengan buku. Dia juga pergi ke lapangan bola. Bergabung dengan kesebelasan lokal Surabaya: Putra Gelora. Read More..
30 September 2016
Kurniawan dan Kenangan di Ruangan Gelora Delta Itu
Di ruangan itu ada Ricky Yacob(i). Juga Robby Darwis. Dua nama yang begitu agung di lapangan hijau sepak bola Indonesia.
Ricky merupakan salah seorang penyerang terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Pria kelahiran Medan itu merupakan anggota tim nasional yang menembus semifinal Asian Games 1986 dan merebut emas SEA Games 1987.
Kebesarannya seperti ”menenggelamkan” striker-striker lain yang sebenarnya tidak hanya tajam, tetapi juga menjadi ikon di kesebelasan masing-masing. Sebut saja Ajat Sudrajat, maskot Persib Bandung; Syamsul Arifin, ”Si Kepala Emas” dari Persebaya Surabaya; atau sang pencetak gol kemenangan Indonesia atas Malaysia dalam SEA Games 1987 Ribut Waidi yang sangat dicintai pendukung PSIS Semarang.
Sedangkan Robby merupakan libero/stopper yang tidak tergantikan. Robby adalah satu-satunya pemain yang turut menyumbang dua medali emas SEA Games dari lapangan hijau. Juara di Jakarta pada 1987 dan empat tahun kemudian kembali berjaya di Manila.
Jadi, bisa dibayangkan betapa agungnya dua sosok tersebut bagi sepak bola Indonesia.
Tetapi, di ruangan di Gelora Delta, Sidoarjo, pada 6 Desember 2015 itu bukan keduanya yang menjadi ”pengendali” atau sentra perhatian. Melainkan Kurniawan Dwi Yulianto, adik generasi mereka. Read More..
Ricky merupakan salah seorang penyerang terbaik yang pernah dimiliki negeri ini. Pria kelahiran Medan itu merupakan anggota tim nasional yang menembus semifinal Asian Games 1986 dan merebut emas SEA Games 1987.
Kebesarannya seperti ”menenggelamkan” striker-striker lain yang sebenarnya tidak hanya tajam, tetapi juga menjadi ikon di kesebelasan masing-masing. Sebut saja Ajat Sudrajat, maskot Persib Bandung; Syamsul Arifin, ”Si Kepala Emas” dari Persebaya Surabaya; atau sang pencetak gol kemenangan Indonesia atas Malaysia dalam SEA Games 1987 Ribut Waidi yang sangat dicintai pendukung PSIS Semarang.
Sedangkan Robby merupakan libero/stopper yang tidak tergantikan. Robby adalah satu-satunya pemain yang turut menyumbang dua medali emas SEA Games dari lapangan hijau. Juara di Jakarta pada 1987 dan empat tahun kemudian kembali berjaya di Manila.
Jadi, bisa dibayangkan betapa agungnya dua sosok tersebut bagi sepak bola Indonesia.
Tetapi, di ruangan di Gelora Delta, Sidoarjo, pada 6 Desember 2015 itu bukan keduanya yang menjadi ”pengendali” atau sentra perhatian. Melainkan Kurniawan Dwi Yulianto, adik generasi mereka. Read More..
21 Juni 2015
Cinta, Perlawanan, dan Surabaya
Yang tergelar di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu malam itu (13/6) bukan sekedar pertandingan sepak bola. Tapi, juga ada cinta, kerinduan, kesetiaan, dan tentu saja perlawanan.
Cinta, kerinduan, dan kesetiaan kepada ”rumah besar” bernama Persebaya Surabaya. Rumah yang lebih dari dua tahun terakhir berusaha dihilangkan dan dirobohkan para pemangku kekuasaan di otoritas sepak bola Indonesia. Read More..
Cinta, kerinduan, dan kesetiaan kepada ”rumah besar” bernama Persebaya Surabaya. Rumah yang lebih dari dua tahun terakhir berusaha dihilangkan dan dirobohkan para pemangku kekuasaan di otoritas sepak bola Indonesia. Read More..
22 Maret 2015
Agar SSB Tidak Mati
Bak jamur di musim hujan, beberapa tahun belakangan sekolah sepak bola (SBB) tumbuh begitu subur. Seperti jamur pula, hidupnya tak bertahan lama. Banyak SSB yang layu lantas tutup sebelum sempat berkembang. Sistem pengelolaan konvensional dengan hanya mengandalkan iuran siswa yang tak seberapa membuat tak banyak SSB yang bisa bertahan.
Padahal, menghidupkan SSB membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Harus mengeluarkan biaya sewa lapangan, membeli perlengkapan latihan, dan juga menggaji pelatih. Kalau pemiliknya tak benar-benar gila bola dan punya duit, jelas sulit bagi SSB untuk terus bertahan.
Agar awet, langkah Mitra Surabaya bisa dijadikan rujukan. Mitra memang tak ubahnya SSB lainnya. Mereka hidup dengan mengandalkan iuran anak didiknya yang tak lebih dari Rp 100 ribu perbulan untuk setiap muridnya. Tapi, cara konvensional itu dipadu dengan sistem pembagian kontrak pemain.
”Saat ini kami membuat perjanjian dengan pemain dan orang tua tentang pembagian uang kontrak saat pemain kami ada yang diikat klub,” kata Ketua Mitra Surabaya Mursyid Effendi. Read More..
Padahal, menghidupkan SSB membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Harus mengeluarkan biaya sewa lapangan, membeli perlengkapan latihan, dan juga menggaji pelatih. Kalau pemiliknya tak benar-benar gila bola dan punya duit, jelas sulit bagi SSB untuk terus bertahan.
Agar awet, langkah Mitra Surabaya bisa dijadikan rujukan. Mitra memang tak ubahnya SSB lainnya. Mereka hidup dengan mengandalkan iuran anak didiknya yang tak lebih dari Rp 100 ribu perbulan untuk setiap muridnya. Tapi, cara konvensional itu dipadu dengan sistem pembagian kontrak pemain.
”Saat ini kami membuat perjanjian dengan pemain dan orang tua tentang pembagian uang kontrak saat pemain kami ada yang diikat klub,” kata Ketua Mitra Surabaya Mursyid Effendi. Read More..
16 Maret 2015
”Obat” Sepak Bola yang Tidak Murah
Suasana Rabu sore (11/3) di salah satu lapangan di Mojolangu, Lowokwaru, Malang begitu berbeda. Puluhan anak asyik memainkan bola di lapangan, sedang puluhan lainnya serius belajar bahasa Inggris di ruang kelas yang berada di bangunan tiga lantai yang terintergasi dengan lapangan tempat puluhan anak bermain bola itu.
”Seperti inilah proses pembelajaran di tempat kami. Tidak hanya sepak bola, tapi kami juga berpikir tentang pendidikan. Kami ingin mencetak pemain plus. Pemain yang bisa jadi leader di lapangan dan lingkungannya,” tegas Nuzul Kifli.
Bersama Aji Santoso, Zulkifli-sapaan akrab Nuzul Kifli-merupakan pendiri Aji Santosa International Football Academy (ASIFA). Salah satu lapangan di sudut Mojolangu yang disebut Zulkifli sebagai tempat pembelajaran itu tidak lain adalah markas ASIFA.
Akademi yang berdiri November 2013 itu lahir dari kegelisahan Aji dan Zulkifli. Keduanya bertemu pada pertengahan 2009. Setiap bercengkerama, keduanya kerap memperbincangkan sepak bola Indonesia. Baik Aji maupun Zulkifli sama-sama merasa prihatin dengan kondisi sepak bola negeri ini. Mereka lantas memutuskan mengambil bagian untuk turut memperbaiki karut-marut sepak bola Indonesia.
”Problem sepak bola kita ada di usia dini. Pembinaan di sini tidak tergarap serius. Kami pun bersepakat untuk melakukan pengembangan usia dini. Sebab, kalau ini tidak digarap, maka kita akan semakin tertinggal,” kata Zulkifli yang juga bertindak sebagai Direktur Operasional ASIFA. Read More..
”Seperti inilah proses pembelajaran di tempat kami. Tidak hanya sepak bola, tapi kami juga berpikir tentang pendidikan. Kami ingin mencetak pemain plus. Pemain yang bisa jadi leader di lapangan dan lingkungannya,” tegas Nuzul Kifli.
Bersama Aji Santoso, Zulkifli-sapaan akrab Nuzul Kifli-merupakan pendiri Aji Santosa International Football Academy (ASIFA). Salah satu lapangan di sudut Mojolangu yang disebut Zulkifli sebagai tempat pembelajaran itu tidak lain adalah markas ASIFA.
Akademi yang berdiri November 2013 itu lahir dari kegelisahan Aji dan Zulkifli. Keduanya bertemu pada pertengahan 2009. Setiap bercengkerama, keduanya kerap memperbincangkan sepak bola Indonesia. Baik Aji maupun Zulkifli sama-sama merasa prihatin dengan kondisi sepak bola negeri ini. Mereka lantas memutuskan mengambil bagian untuk turut memperbaiki karut-marut sepak bola Indonesia.
”Problem sepak bola kita ada di usia dini. Pembinaan di sini tidak tergarap serius. Kami pun bersepakat untuk melakukan pengembangan usia dini. Sebab, kalau ini tidak digarap, maka kita akan semakin tertinggal,” kata Zulkifli yang juga bertindak sebagai Direktur Operasional ASIFA. Read More..
01 Maret 2015
Yang Harus Dibayar dari Kesalahan dan Kepongahan
Menjadi sangat wajar kalau kickoff kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2015 diundur. Sebab, terlalu banyak kesalahan yang dipelihara. Dan juga karena terlalu pongahnya otoritas sepak bola negeri ini.
Kesalahan yang mencolok dan menohok tentu terkait tunggakan gaji pemain. Hampir sebagai besar kesebelasan yang berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia dan yang di bawahnya masih berutang kepada para pemainnya. Juga kepada mereka yang sudah pergi dan berlabuh di klub lain.
Gaji yang belum terbayar itu bukan hanya satu-dua bulan. Tapi, berbulan-bulan. Bahkan, beberapa musim. Yang tertunggak gajinya juga tidak cuma satu-dua pemain. Namun, di setiap klub ada beberapa pemain, mungkin lebih dari lima orang.
Dengan masih banyaknya kesebelasan yang menunggak gaji pemainnya, tentu menjadi sangat tidak rasional kalau kompetisi tetap dijalankan. Masalah jelas bakal semakin bertumpuk jika kompetisi dipaksakan digelar. Rentetan kasus tunggakan gaji akan semakin panjang. Bisa dipastikan ketika gaji yang lalu belum terbayar, utang baru akan terbit lagi dan lagi. Read More..
Kesalahan yang mencolok dan menohok tentu terkait tunggakan gaji pemain. Hampir sebagai besar kesebelasan yang berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia dan yang di bawahnya masih berutang kepada para pemainnya. Juga kepada mereka yang sudah pergi dan berlabuh di klub lain.
Gaji yang belum terbayar itu bukan hanya satu-dua bulan. Tapi, berbulan-bulan. Bahkan, beberapa musim. Yang tertunggak gajinya juga tidak cuma satu-dua pemain. Namun, di setiap klub ada beberapa pemain, mungkin lebih dari lima orang.
Dengan masih banyaknya kesebelasan yang menunggak gaji pemainnya, tentu menjadi sangat tidak rasional kalau kompetisi tetap dijalankan. Masalah jelas bakal semakin bertumpuk jika kompetisi dipaksakan digelar. Rentetan kasus tunggakan gaji akan semakin panjang. Bisa dipastikan ketika gaji yang lalu belum terbayar, utang baru akan terbit lagi dan lagi. Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)