27 Januari 2010

Jonathan Sianturi, Menegakkan Kembali Kejayaan Senam Indonesia

Dunia senam Indonesia begitu identik dengan Jonathan Mangiring Paringhotan Sianturi. Jonathan Sianturi-sapaan akrabnya-tidak sekedar menjadi bagian senam Indonesia. Namun, dia juga merupakan sejarah bagi senam Indonesia.

Waktu terus bergerak. Dan pagi pun telah berlalu. Arena latihan senam di Gedung Senam Gelora Bung Karno, Jakarta pun sudah ditutup. Karena, latihan pagi itu-selasa (19/1) lalu- memang telah usai. Tapi, Jonathan Sianturi tak juga beranjak. Dia tetap bertahan di sana.

”Masih ada yang harus saya kerjakan,” katanya. Usai memimpin latihan pagi itu, Jonathan memang langsung disapa aktivitas lainnya. Pria berusia 38 tahun itu harus mengikuti rapat yang digelar Pengurus Besar Persatuan Senam Indonesia (PB Persani).

Rapat tersebut dilangsungkan di Gedung Senam Gelora Bung Karno. Jonathan harus mengikuti rapat tersebut. Sebab, Jonathan merupakan bagian dari pengurus Persani. ”Saat ini saya memang dipercaya sebagai komisi teknik PB Persani dan juga pelatih Pelatnas,” sebutnya.

Namun, lebih dari itu, Jonathan melangkah ke ruang rapat bukan semata karena jabatannya tersebut. Tapi, keberadaannya di meja rapat juga sebagai bentuk tanggungjawabnya untuk turut mengembalikan kejayaan senam Indonesia.

Pria kelahiran Medan itu ingin menyumbangkan pikiran demi mendorong kemajuan olahraga kelenturan tubuh tersebut. Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa dunia senam Indonesia saat ini dalam situasi memprihatinkan. Perkembangan dan prestasinya dalam sepuluh tahun terakhir terlihat surut.

”Senam itu sudah menjadi irama hidup saya. Nah, saat ini irama tersebut sedang bermasalah. Karena itu, saya punya tanggungjawab untuk memperbaikinya,” ujar Jonathan.

”Saya ingin senam Indonesia kembali berjaya. Saya ingin melihat senam memberi sumbangsih medali emas yang positif bagi Indonesia di multieven olahraga internasion, melebihi apa yang dulu pernah saya lakukan,” tegasnya.

Dunia senam Indonesia memang pernah begitu berjaya. Tepatnya pada era 80-an hingga 90-an. Waktu itu, senam selalu menjadi salah satu lumbung medali emas bagi kontingen Indonesia di setiap kali perhelatan SEA Games.

Dan nama Jonathan Sianturi menjadi ikon kejayaan senam Indonesia kala itu. Jonathan begitu jago hampir di semua nomor senam. Seperti nomor lantai, gelang-gelang, kuda pelana, atau palang tunggal. Prestasi demi prestasi disumbangkannya untuk Merah Putih.

Sejak keikutsertaannya di SEA Games 1985 di Thailand hingga SEA Games 2001 di Malaysia, Jonathan tidak pernah absen menyumbangkan medali.

Hanya pada SEA Games 1985 dan SEA Games 1991 Filipina saja, dia tidak mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Pada dua edisi SEA Games tersebut, Jonathan hanya mampu meraih satu medali perunggu. Hal itu lantaran pada SEA Games1985, Jonathan masih terbilang bau kencur. Sedang pada SEA Games 1991, tulang fibula kirinya patah pada dua bagian.

Namun, di luar dua SEA Games tersebut, Jonathan selalu menyumbang medali emas. Suami Yulianti itu hampir selalu membawa pulang lebih dari satu medali emas. Pada SEA Games 1997 di Jakarta, bahkan Jonathan mampu mendulang lima medali emas.

Nah, setelah Jonathan mundur dari gelanggang selepas SEA Games 2001, prestasi senam Indonesia pun ikut mundur. Senam pun bukan lagi menjadi salah satu lumbung produktif kontingen Indonesia.

”Jelas saya miris dengan kondisi ini. Apalagi, seperti yang sudah saya katakan bahwa senam adalah irama hidup saya. Ini adalah dunia karya saya, karena itu saya tidak ingin prestasi senam Indonesia semakin tenggelam,” tutur Jonathan.

Atas dorongan itu semua Jonathan pun tidak benar-benar pergi dari gelanggang senam selepas mundur sebagai atlet. Pada 2005, Jonathan pun memutuskan sebagai pelatih. Kini dirinya pun telah dipercaya menjadi pelatih nasional.

Hal itu pun membuatnya semakin bersemangat untuk menegakan kembali kejayaan senam Indonesia. ”Ini pekerjaan yang sulit. Saya saya tidak akan menyerah untuk merealisasikannya,” ujarnya.
Read More..

Memulai (lagi) dengan Sepatu

Sudah hampir 10 tahun Hariyanto Arbi gantung raket. Namun, dia tetap tidak pernah jauh dari lapangan bulu tangkis. Bukan lagi sebagai atlet tentunya. Juga tidak sebagai pelatih. Sebab, Hari telah memilih sebagai pengusaha peralatan dan perlengkapan olahraga serta bulu tangkis.

Keringat jatuh dari wajahnya. Rasa lelah juga nampak tergurat dari wajahnya. Namun, pria tersebut belum juga beristirahat. Dia tetap saja mondar-mandir menemui para koleganya. Berbincang dengan rekan satunya, setelah itu bergeser untuk berbicara dengan teman yang lainnya.

Begitulah Hariyanto Arbi-pria itu-di Jumat malam pekan lalu di GOR Bulu Tangkis Asia Afrika, Senayan, Jakarta. Kebetulan malam itu di tempat tersebut digelar turnamen bulu tangkis yang melibatkan dirinya sebagai ketua panitia pertandingan.

”Inilah salah satu kegiataan saya saat ini setelah gantung raket. Tapi, saya tidak merasa lelah. Apalagi, kegiatan ini juga sebagai bagian dari wahana promosi usaha saya,” tutur Hariyanto Arbi.

Hariyanto Arbi merupakan salah satu pebulu tangkis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Dia lahir di Kudus Jawa Tengah 21 Januari 1972. Hari bertarung di pentas bulu tangkis internasional dari tahun 1990 hingga 2000. Beragam gelar telah direngkuhnya.

Hari dua kali merengkuh gelar juara All England pada 1993 dan 1994. Pada 1994 dan 1995, Hari menahbiskan diri sebagai juara dunia. Putra pasangan (Alm) Arbi-Hastuti tersebut juga turun menjadi bagian sukses Indonesia di Piala Thomas pada 1994, 1996, 1998, dan 2000.

Usai Piala Thomas 2000, Hari memutuskan gantung sepatu. Setelah meninggalkan gelanggang, Hari lantas bergelut di jalur bisnis. Dia membuka usaha. ”Usahanya juga tidak jauh dari dunia yang saya geluti yakni bulu tangkis,” ujarnya.

Bersama dengan beberapa rekannya, Arbi mendirikan perusahaan dengan nama Flypower. Perusahan tersebut didirikan pada tahun 2003. Seperti dikatakan Hari, perusahannya memang bergerak tidak jauh dari bulu tangkis.

Flypower merupakan perusahan penyedia peralatan dan perlengkapan olahraga, khususnya bulu tangkis. Sebut saja seperti sepatu, raket, kaos, bahkan karpet lapangan bulu tangkis. ”Saya memilih berbisnis karena sudah banyak rekan yang menjadi pelatih. Selain itu, ini juga didorong rasa kecewa atas penghargaan pemerintah kepada mantan atlet,” kata Hari.

Setelah berpikir panjang dan berdiskusi dengan beberapa temannya, Hari lalu memutuskan berbisnis dengan mengusung bendera Flypower. ”Produk pertama kami adalah sepatu. Dan ini menjadi andalah kami. Kenapa sepatu? Saya dan teman-teman memilih sepatu karena ini awalnya didasari oleh ketidakadaan sepatu bulu tangkis pada masa itu,” papar Hari.

Hari bercerita dimasa dirinya bermain, belum ada sepatu khusus bulu tangkis. Yang seringkali dipakai para pebulu tangkis dimasanya dan di era sebelumnya adalah sepatu indoor. Fakta itu disebut Hari cukup ironis. Sebab, sudah bermunculan jago-jago bulu tangkis, tapi tidak ada sepatu khusus untuk pebulu tangkis.

Karena itu, Hari pun tergerak untuk memproduksi sepatu khusus bulu tangkis. ”Saya juga tertarik dengan filosofi letak sepatu yang ada di bawah. Ini sesuai dengan status saya saat itu. Dimana, saya memulai usaha ini semua dari bawah, dari nol,” ungkapnya.

Hari memang memulai usahanya dari bawah. Benar-benar dari nol. Dia hanya berbekal keyakinan serta modal uang hasil tabungan saat masih aktif menjadi pemain. Hari menyebut dirinya tidak memiliki ilmu dari bangku sekolah yang cukup tentang manajemen dan pemasaran.

”Saya belajar sambil menjalankan usaha ini. Awalnya cukup berat. Tapi, saya yakin dengan apa yang saya yakini. Dimana, Tuhan pasti akan melihat setiap usaha keras umatnya,” urai Hari.

Hari mengakui bahwa keyakinan itupula yang menjadi kunci suksesnya di arena pertandingan. Sebagai atlet Hari memang sempat divonis mentok di awal karirnya di Pelatnas. Tapi dengan kepercayaan bahwa Tuhan pasti akan melihat usaha keras umatnya tersebut Hari mampu bangkit dan berhasil meraih banyak gelar.

”Hal itupula yang menjadi pegangan saya dalam menekuni bisnis ini,” aku. Hasilnya, Hari menuturkan kalau dari usahanya tersebut dirinya bisa hidup cukup bersama keluarganya. Flypower sendiri kini juga berkembang pesat. Produknya kini tak hanya beredar di Indonesia saja. Tapi juga telah ada di Malaysia, Filipina, Singapura. Bahkan, beredar pula di Jerman, Prancis, dan Guatamala.
Read More..

02 Desember 2009

Melestarikan Warisan Sekaligus Membayar Utang

Rambutnya sudah didominasi warna putih. Salah satu tanda bahwa pria itu sudah cukup berumur. Kendati begitu, semangatnya tetap terjaga. Bahkan, begitu menyala jika bersinggungan dengan bulu tangkis.

Christian Hadinata pria itu. 11 Desember nanti usianya genap 60 tahun. 3/4 dari umurnya tersebut dijalaninya di bulu tangkis. ”Hanya di masa kecil saja saya tidak sepenuhnya bersinggungan dengan bulu tangkis. Sebab, selain bermain bulu tangkis, saya juga bermain sepak bola,” kata Christian.

Selepas SMA, tepatnya pada 1969, barulah Christian benar-benar fokus ke bulu tangkis. Pada tahun itu dia memutuskan berlatih total bulu tangkis di klub Blue White-kini PB Mutiara-Bandung. Sejak itu hari-hari Christian tidak pernah jauh dari lapangan bulu tangkis.

Pria kelahiran Purwokerto tersebut menyandang status atlet dari 1969 hingga 1988. Beragam gelar direngkuhnya semasa aktif sebagai pemain sektor ganda. Christian telah mereguk nikmatnya gelar juara All England, Juara Indonesia Terbuka, dan Juara Dunia. Christian juga mengantarkan Indonesia menjuarai Piala Thomas pada 1973, 1976, 1979, dan 1984.

Setelah memutuskan gantung raket pada 1988, Christian tidak lantas meninggalkan lapangan bulu tangkis. Suami Yoke Anwar tersebut memilih untuk tetap berada di lapangan bulu tangkis. Bukan lagi sebagai atlet tentunya. Namun, Christian mengisi posisi sebagai pelatih.

Awalnya, dia melatih untuk salah satu klub yang telah membesarkan namanya PB Djarum Kudus. Pada tahun 1990 teknokrat olahraga Indonesia, M.F Siregar mengajaknya bergabung melatih sektor ganda pria Pelatnas. Christian menyanggupi. Dan bahkan dia tetap bertahan di Pelatnas hingga kini.

Saat ini jabatannya adalah Kepala Sub Bidang Pelatnas. Kendati begitu, setiap hari, Christian tidak pernah segan berkeluh keringat di lapangan bersama anak-anak Pelatnas. ”Para pendahulu kita telah mewariskan sesuatu yang luar biasa berupa prestasi bulu tangkis. Sebagai generasi penerus saya merasa bertanggungjawab untuk melestarikannya,” ujarnya.

Generasi sebelum Christian memang telah menorehkan prestasi luar biasa di bulu tangkis. Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Eddy Yusuf, Olich Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan dan Njoo Kim Bie berhasil membawa Indonesia juara Piala Thomas untuk kali pertama pada 1958.

”Bagaimana mungkin saya melupakan warisan hebat tersebut. Saya harus menjaga dan melestarikannya. Karena itu, saya selalu termotivasi untuk terus berada di lapangan guna menjaga eksistensi bulu tangkis di Indonesia dan prestasinya,” tegas Christian.

Satu hal lagi yang mendorong Christian tetap berada di lapangan bulu tangkis. Hal tersebut adalah hutang. Christian merasa punya utang yang begitu besar terhadap bulu tangkis dan PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Indonesia).

”Dari bulu tangkis saya mendapat banyak hal. Materi, prestasi, kebanggaan, teman, serta bisa berkesempatan keliling dunia. Itu semua saya anggap utang. Karena itu, saya harus berbuat untuk bulu tangkis sebagai bentuk saya membayar utang tersebut,” tutur Christian.

Sampai kapan Christian akan membayar utang itu? ”Sampai akhir hayat saya. Mungkin sampai saya tidak ada, saya rasa utang itu tidak bakal terbayar,” sebut Christian.

Ayah Mario Hadinata dan Mariska Hadinata itu mungkin merasa utangnya tidak akan terbayar lunas. Namun, publik jelas telah menilai Christian telah memberi banyak untuk prestasi bulu tangkis Indonesia selama menjadi pelatih.

Betapa tidak, Edi Hartono/Gunawan yang merupakan anak didik pertama Christian di Pelatnas telah menyumbangkan medali perak di Olimpaide Barcelona 1992. Setelah itu, Christian melahirkan salah satu ganda pria terbaik di dunia Ricky Subagja/Rexy Mainaky. Beragam gelar juara didatangkan ganda tersebut untuk ibu pertiwi. Salah satunya adalah medali emas Olimpiade Atlanta 1996.

Pada Olimpiade 1996, anak asuhnya Christian yang lain Denny Kantono/Antonius Ariantho mempersembahkan medali perunggu. Di bawah bimbingan Christian pula Chandra Wijaya/Tony Gunawan meraih medali emas Olimpiade 2000. Selain itu juga ada Markis Kido/Hendra Setiawan yang membawa pulang medali emas Olimpiade 2008.

”Tapi saya bukan pelatih yang sempurna. Sukses tersebut tidak luput dari kualitas para pemain. Saya juga punya kekurangan lain. Dimana, saya selalu tidak bisa berbuat adil untuk semua nomor,” aku Christian.
Read More..

27 Agustus 2009

Liem Siau Bok, Jadi Pengumpan di Luar Lapangan

Kisah pilu seringkali terdengar dari para mantan atlet di masa senjanya. Bahkan, cerita itu begitu dominan. Namun, itu bukan berarti cerita sukses dari atlet yang telah purnatugas nihil. Liem Siau Bok menjadi salah satu bagian kisah sukses tersebut.


Aroma bola voli sama sekali tidak terasa dalam ruang tamu pria itu. Kesan elegan yang lebih terasa. Nuansa itu timbul dari barang-barang yang menghiasi ruang tamu tersebut. Mulai dari sofa, karpet, hingga lukisan besar karya seorang pelukis Vietnam.

”Dunia saya sekarang memang berbeda dengan dahulu. Tapi, saya tetap tidak melupakan voli. Hanya saja sekarang saya sekedar menjadi penikmat voli,” tutur pria itu.

Pria itu adalah Liem Siau Bok. Namanya tercatat indah dalam sejarah panjang bola voli Indonesia. Pria kelahiran Jakarta 26 Desember 1956 itu pernah menjadi tulang punggung tim nasional (Timnas) bola voli Indonesia. Siau Bok berada di Timnas dari rentang waktu 1975 hingga 1987.

Di atas lapangan dia beroperasi sebagai spiker sekaligus quiker. Smash-smash tajamnya turut mengantarkan Indonesia merebut dua medali emas di arena SEA Games. Tepatnya pada SEA Games 1981 di Manila, Filipina dan SEA Games 1987 di Jakarta.

Siau Bok juga berperan positif dalam mendulang tiga medali perak di tiga edisi SEA Games lainnya. Masing-masing pada SEA Games 1979, 1983, dan 1985. Siau Bok pun pernah membawa Indonesia menempati posisi keenam Asian Games 1982 di New Delhi, India. Namanya pun masuk Hall Of Fame di Britama Arena Sports Mall, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

”Tidak bisa dipungkiri kalau saya dibesarkan oleh voli. Namun, sejak memutuskan pensiun pada 1987 saya memutuskan memilih hidup di dunia yang berbeda,” kata Siau Bok.

Siau Bok memang tidak sepenuhnya langsung meninggalkan bola voli. Sebab, dia sempat belajar menjadi pelatih voli. Siau Bok juga pernah menjadi ketua liga profesional voli Indonesia atau yang akrab disebut Proliga.

Namun, selepas purnatugas sebagai atlet, hidup Siau Bok memang lebih banyak dihabiskan untuk berkecimpung di luar voli. Siau Bok lebih menekuni dunia bisnis dalam menyambung hidup. Pada tahun 1998, bersama dua sahabatnya, Helmi Yahya dan Jedi Suherman, dia mendirikan Triwarsana. Sebuah production house yang bergerak dalam industri kreatif.

Melalui Triwarsana, Siau Bok menelurkan beragam tayangan reality show di telivisi yang sebagian besar bermuatan amal. Seperti Bedah Rumah, Bedah Kampung, Nikah Gratis, Tolong, Uang Kaget, atau Lunas yang tayang di televisi nasional.

”Saya menekuni bisnis ini seperti air mengalir. Ini semua berawal dari keinginan Jedi (Suherman) untuk menjadikan saya manajer Joshua. Lalu saya menyarankan untuk memakai Helmi (Yahya). Dari situ lalu berkembang seperti sekarang,” ungkap Siau Bok.

Siau Bok menceritakan awalnya dia dan dua patnernya itu membuat acara Joshua di Indosiar. Kemudian membuat acara Asal yang dibawakan (alm) Taufik Savalas. Kemudian menelurkan Mimpi Kali Yee yang dipandu Dewi Hughes.

”Mulai program Mimpi Kali Yee kami memakai nama Triwarsana. Sebelumnya Joshua Enterprise, lalu berganti Helmi Yahya Production,” papar Siau Bok.

Nah, setelah Mimpi Kali Yee mulainya menggelinding program-program lainnya. Tak kurang dari sepuluh acara telah ditelurkan Siau Bok bersama bendera Triwarsana. Selain itu, kerja di Triwarsana juga hanya dikendalikan berdua dengan Helmi saja. Jedi ”terpaksa” ditinggal karena sesuatu hal.

Dalam memproduksi program-programnya, Siau Bok akhirnya lebih memilih untuk yang bermuatan amal. ”Dalam reality show itu hanya ada dua. Pertama, menolong orang dan kedua mengerjai orang. Kami akhirnya memutuskan memperbanyak pilihan pertama,” ujar Siau Bok.

Pilihan itu lebih dikedepankan karena Siau Bok menyadari bahwa masyarakat Indonesia masih banyak yang membutuhkan. Dia tahu bahwa tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih perlu ditolong.

Siau Bok sadar kalau program yang dibuatkan tidak bisa membantu seluruh masyarakat. Namun, lewat programnya, Siau Bok ingin memberi umpan yang lain agar tergerak atau terpicu untuk turut membantu masyarakat yang masih perlu ditolong.

”Posisi saya hanyalah pengumpan. Ini hanyalah satu titik. Hal besar yang kami inginkan adalah agar orang lain tergerak, tergugah, dan bersemangat untuk menolong,” sebut Siau Bok.
Read More..

17 Agustus 2009

Susi Susanti, Membina Bulu Tangkis dari Balik Layar

Susi Susanti begitu lekat dengan bulu tangkis. Bagi wanita asal tasikmalaya, Jawa Barat itu, bulu tangkis telah menjadi hidup dan kehidupannya. Karena itu, perjalanan hidup Susi pun tidak bisa dilepaskan dari olahraga tepok bulu tersebut.

”Saya sudah berkenalan dengan bulu tangkis sejak usia tujuh tahun,” ujar Susi membuka pembicaraan.

Sebuah perkenalan yang tentu sangat dini. Jadi, sangat wajar, jika Susi akhirnya memandang bulu tangkis sebagai hidup dan kehidupannya. Atau istilah Susi, bulu tangkis sudah menjadi darah dan dagingnya. Apalagi, dari pertautannya dengan bulu tangkis Susi tidak sekedar mendapatkan materi.

Dari bulu tangkis, Susi dikenal publik. Dari bulu tangkis pula Susi mendapatkan pendamping hidup-Alan Budikusuma-yang menikahinya pada 9 Februari 1997. Lebih dari itu, dari bulu tangkis Susi juga mampu menghiasi perjalanan hidupnya dengan sederet prestasi hebat sekaligus mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional.

Wanita yang lahir 11 Februari 1971 itu pernah menyabet gelar juara dunia pada 1993. Empat kali dia menjadi juara di kejuaraan bergengsi All England. Susi juga menjadi ujung tombak keberhasilan Indonesia meraih Piala Uber pada 1994 dan 1996.

Dan yang paling fenomenal tentu saja apa yang ditorehkan Susi pada Olimpiade 1992 yang berlangsung di Barcelona, Spanyol. Di arena multieven olahraga antar bangsa-bangsa itu Susi berhasil membuat lagu Indonesia Raya berkumandang. Ayunan raket Susi membuat bendera Merah Putih berkibar lebih tinggi dari bendera negara-negara lainnya.

Di Olimpiade 1992 itu Susi berhasil menyabet medali emas. Dan medali emas yang direbut Susi tersebut merupakan medali emas pertama yang diraih Indonesia di Olimpiade. ”Momen itu merupakan momen paling bersejarah bagi saya. Saya benar-benar bangga bisa mengharumkan nama bangsa melalui bulu tangkis,” sebut Susi.

Atas pencapaiannya tersebut pemerintah lantas memberikan tanda kehormataan berupa bintang jasa utama kepada Susi. ”Tapi apa yang saya raih ini tidaklah mudah. Butuh pengorbanan dan kerja ekstra,” kata wanita yang kini telah dikarunia tiga anak itu.

Untuk menjadi juara Susi memang mengorbankan banyak hal. Baik tenaga, waktu, dan masa remajanya. Demi menjadi juara, Susi sudah harus hidup terpisah dari kedua orang tuanya saat masih duduk di kelas 2 SMP. Dia hijrah dari kota kelahirannya ke Jakarta seorang diri. Sejak kepindahannya itu hari-hari Susi lebih banyak dihabiskan untuk berlatih.

Dua kali dalam sehari dari Senin hingga Sabtu Susi melahap menu latihan. Porsi latihan lebih berat dijalani ketika mempersiapkan diri ke Olimpiade 1992. Dia harus berlatih tiga kali sehari. Waktu latihan juga lebih panjang dari biasanya. ”Mengingat itu semuanya membuat saya tidak bisa meninggalkan bulu tangkis,” aku Susi.

Ya, meski sudah gantung raket sejak 1997, Susi tidak melupakan bulu tangkis. Susi tetap bersinggungan dengan bulu tangkis. Namun pertautannya kali ini dalam bentuk berbeda. Pasalnya, Susi sudah menegaskan diri tidak bakal menjadi pelatih. Baginya jalan menjadi pelatih belum bisa dijadikan sandaran hidup.

Bersama Alan, Susi menggeluti bisnis yang bersentuhan dengan bulu tangkis. Pada pertengahan 2002 silam, Susi dan Alan mendirikan Astec (Alan Susi Technology). Astec merupakan produsen peralatan bulu tangkis. ”Saya dan Alan memulai dari nol dalam membangun Astec. Dari Asteclah kini kami menyandarkan hidup,” ujar Susi.

”Meski sibuk berbisnis, tapi saya tetap tidak lupa untuk membantu pembinaan bulu tangkis Indonesia. Untuk hal ini saya memilih berada di balik layar saja,” imbuhnya.

Bersama sang suami, Susi mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tempat tersebut merupakan arena pemusatan latihan bagi para pebulu tangkis muda.

Usaha pembinaan yang dilakoni Susi dari balik layar juga dijalaninya dengan melakukan safari ke sekolah-sekolah. Lewat jalan tersebut Susi ingin memperkenalkan bulu tangkis kepada anak-anak.

Di samping itu, Susi juga menggelar turnamen bulu tangkis berlabel Astec Open yang sudah berlangsung lima tahun terakhir. Turnamen tersebut dikhusukan pada pebulu tangkis muda. Karenanya, dalam turnamen itu tidak dipertandingan kelas dewasa. Sebaliknya dalam Astec Open justru dimainkan kelas anak-anak usia 11 tahun ke bawah.

”Saya berharap dari usaha kami ini, semakin banyak bibit unggul. Sehingga, mereka nantinya bisa menjadi tumpuhan masa depan bulu tangkis Indonesia,” papar Susi.
Read More..

21 Juni 2009

data ISL 2008/2009

Juara : Persipura Jayapura
Runner Up : Persiwa Wamena
Peringkat III : Persib Bandung

Pemain Terbaik : Boaz Solossa (Perspiura)
Top Skor : Boaz Solossa (Persipura/ 28 gol)
Christian Gonzalez (Persib/28 gol)
Tim Fairplay : Belum Diumumkan


Pertandingan : 306
Gol : 814
Rata-rata gol perpertandingan : 2,66
Kartu Kuning : 967
Kartu Merah : 41
Jumlah Pemain : 549 (436 lokal, 113 asing)
Kartu Kuning Pertama : Jufri Samad/Persiba Balikpapan
Kartu Merah Terakhir : Aris Indarto/Persija Jakarta
Kartu Merah Pertama : Hamka Hamzah/Persik Kediri
Kartu Merah Terakhir : Maully Lessy/Sriwijaya FC
Kartu Terbanyak : Marcio Souza/ Persela (11 kartu kuning), I Gede Sukadana/Persela (9 Kartu Kuning dan 2 Kartu Merah)
Skor Kemenangan Terbesar : 6-0 (Persipura v Persija, Sriwijaya FC v Persita, Persiwa v PSIS
Kekalahan Terbesar Kandang : 0-5 (Arema v Persipura)




Pemain Asing Termahal : Abanda Herman/Persija (Rp 1.315.000.000)
Pemain Lokal Termahal : Bambang Pamungkas/Persija (Rp 1.370.000.000)
Pemain Tertua : Keith Kayamba/Sriwijaya FC, James Debbah/PKT (36)
Pemain Termuda : Ramdani Lestaluhu/Persija (17)
Pencetak Gol Pertama : Ernest Jeremiah/Persipura
Pencetak Gol Terakhir : Christian Gonzalez


Rabu, 10 Juni 2009

Persiwa v PSMS 5 – 0 (2-0)
Persipura v Sriwijaya FC 4 – 1 (2-0)
PKT v Pelita Jaya 5 – 0 (1-0)
Persiba v PSIS 5 – 0 (3-0)
Persik v Persita 3 – 1 (1-0)
Arema v Persijap 3 – 1 (2-1)
Persela v Persitara 2 – 1 (1-1)
Persija v Persib 1 – 2 (0-0)
Deltras v PSM 5 – 3 (2-1)

Klasemen Akhir
Papan Atas
1. Persipura* 34 25 5 4 81-25 80
2.(3) Persiwa 34 21 3 10 57-32 66
3.(2) Persib 34 20 6 8 63-40 66
4.(6) Persik 34 16 7 11 53-46 55
5.(4) Sriwijaya FC 34 15 9 10 60-45 54
Papan Tengah
6.(7) Persela 34 16 6 12 41-35 54
7.(5) Persija 34 15 8 11 61-48 53
8. PSM 34 13 12 9 42-44 51
9. Pelita Jaya 34 14 7 13 35-35 49
10.(11) Arema 34 13 8 13 40-42 47
Papan Bawah
11.(10) Persijap 34 12 10 12 42-40 46
12. Persiba 34 13 7 14 40-42 46
13.(14) Bontang PKT 34 9 11 15 43-53 37
14.(13) Persitara 34 9 9 16 41-50 36
Zona Playoff Degradasi
15. PSMS 34 6 13 15 41-54 31
Zona Degradasi
16. Deltras** 34 7 8 19 30-55 29
17. Persita** 34 6 7 21 26-65 25
18. PSIS** 34 4 9 21 17-62 21
* Juara
** Degradasi

Daftar Pencetak Gol:
28 gol: Boaz Solossa 1-pen (Persipura), Christian Gonzalez 14 gol di Persik 2-pen (Persib)

23 gol: Alberto ”Beto” Goncalves (Persipura)

22 gol: Ngon A Djam 2-pen (Sriwijaya),

18 gol: Bambang Pamungkas 3-pen (Persija)

17 gol: Talauhu Abdul Musafri 5-pen (Persiba),

16 gol: Ernest Jeremiah 1-pen (Persipura) Greg Nwokolo (Persija),Cristiano Lopez 1-pen (Pelita Jaya), Marcio Souza-1 pen (Persela)

15 gol: Hilton Moreira (Persib), Julio Lopez-2 pen (PSM),

14 gol: Saktiawan Sinaga 1-pen (Persik)

13 gol: Rahmat Rivai 2-pen (Persitara)

12 gol: Pieter Rumaropen 2-pen, Boakay Edy Foday (Persiwa), Leonardo Martins Zada 3-pen (PSMS),

11 gol: James Debbah 1-pen (PKT), Rafael Bastos 4-pen (Persib), Keith Kayamba (Sriwijaya)

10 gol: Josiah Seton 1-pen (PKT), Redouane Barkoui (Persiwa), Gaston Gastano 4-pen tiga gol di PSIS (Persiba).

9 gol: Dicky Firasat (Persela), Zan Rahan (Sriwijaya)

8 gol: Edisio Sergio Junior (Deltras) , Evaldo Silva 4-pen (Persijap) Prince Kabir Bello (Persitara), Claudio Proneto 4-pen (PSM), Aldo Barreto (PSM)

7 gol: Aliyudin (Persija) Lorenzo Cabanas (Persib)

6 gol: I Made Wirahadi (Persita) Ilham Hasan, Arnaldo Villalba (Persijap) Anoure Obiora 1-pen (Sriwijaya FC),

5 gol: Firdaus Yong (Deltras), Budi Sudarsono 4 gol di Persik (Sriwijaya), Ronald Fagundes (Persik), Adrian Trinidad (Persiba), Mario Costas, Rahmad Afandi (PSMS), Pablo Alejandro Frances(Persijap), Imral Usman (PKT), Micheal Adolfo Souza 1-pen (Persita), Souleymane Traore, Emaleu Serge (Arema), Lumineau Benoit (Persiwa)

4 gol: Danilo Fernando 1 gol di Persik (Deltras), , Syamsul Chaerudin 1-pen (PSM), Fabiano Lopes (Persija), Patricio Morales, Emile Mbamba (Arema) Amarildo Souza (Persijap) Jimmy Suparno (Persela), Wilfredo–2 pen (PKT), Eduard Ivakdalam (Persipura), Robertino Pugliara (Persija)

3 gol: Hamka Hamzah, Khusnul Yuli (Persik), Airlangga Sucipto (Persib), Titus Bonai, Miftahul Huda (PKT), Erich Week, Tarik Chaqui, OK John -1 pen (Persiwa), Esteban Javier Guillen 1-pen, Aun Carbini (PSMS), Ahmad Amirudin (PSM), Carlos Raul Scucati (Persela), Aji Nurpijal, Enjang Rohiman (Persijap), Fandi Mochtar, Arif Suyono (Arema), Abanda Herman (Persija), Ireneo Roberto Acosta 2-pen (Deltras), Eduardo, M. Ridwan (Pelita Jaya), M. Nasuha (Sriwijaya), Eliusangelo (Persiba), Onambele Jules Basile, Salomon Bengondo (PSIS), Victor Igbonefo (Persipura), Ebenje Rudolf (Persitara)

2 gol: Tarik Aljanaby, Satria Fery (PKT), Fortune udo, Ahmad Sembiring Usman, ChMelo Roman (Arema), Noorhadi (Persijap), Dede Hugo Gustavo Chena 1-pen, M. Khusen, Carlos Bergontini (Deltras), Atep, Nyeck Nyobe, Eka Ramdani, Nova Arianto, Zaenal Arif -1 pen (Persib), Ismed Sofyan, Agus Indra Kurniawan 1-pen (Persija), Feri Ariawan, Nenggue Binevenue(PSIS), Micheal Adolfo Souza, Supriyadi, Cucu Hidayat, Lubis Syukur (Persita), Yongky Aribowo, Mahyadi Panggabean (Persik), Fabiano (Persela) Ambrizal (Sriwijaya), Vendry Mofu, Immanuel Padwa, Yesaya Desanu (Persiwa), Diva Tarkas (PSM), Andika Yudistira (PSMS), Ian Luis Kabes, Ortizan Solossa, Ricardo Salampessy (Persipura)

1 gol:Fadil Sausu (Persik), Cornelis Kaimu, Alberto Mambrasasr, Habel Satya, Tutug Widodo (Persiwa), Leonard Tumahu, Ponaryo Astaman, Ade Suhendra (Persija), Nicolas Djone, Ade Mustari (Persita) Mustopa Aji, Pello Benson, Alfredo Figuera, Yahya Sosomar, Dedy Mulyadi (Persitara), Legimin Raharjo 1-pen, M. Roby,Jefri Dwi Hadi, Agus Susanto (Persik), Boston Browne, Ronny Firmansyah, Suroso, Hendra Ridwan (Arema),Alex Robonsaon, Zaenal Arifin (Persela), Sulthan Samma, Bruno Zandonadi, Muhammadan (Persiba), Benben Berlian, Alamsyah Nasution, Tsimi Jacques Joel, Wijay, Toni Sucipto, Korinus Fingkrew (Sriwijaya), Gilang Angga, Fabio Lopez, Salim Alaydrus (Persib), Basri B.S, Eduardo Pizzaro (Pelita Jaya), Dwi Joko (Deltras), David da Rocha (Persipura), Oktavianus Maniani, Pinto, Juan Valabery, Affan Lubis, Patricio Jimenez, Makinwa, Asri Akbar (PSMS), Rahmat LatiefIrsyad Aras (PSM), Trias Budi, Domerto Thesia, Donny Siregar (PKT), Donny F. Siregar, Nurul Huda, Sofyan Morhan (Persijap),

Gol Bunuh Diri:
1 gol: Erik Setiawan (Arema) Fabiano (Persela), Evaldo da Silva (Persijap) Heri Susilo (PSIS), Sofyan Morhan (Persijap)
Read More..

Sopir Bus itu Telah Sampai Terminal

Malam semakin larut. Jarum di dinding telah menunjukkan bahwa waktu telah memasuki pukul 22.30 WIB. Hampir sebagian besar orang pun telah larut dalam tidur. Tapi, malam itu-Rabu 10 Juni 2009-Purwanto masih terjaga.

Saya tahu kalau pria asal Kediri itu masih terjaga, karena beliau menyapa saya lewat telepon. ”Bagaimana kepemimpinan saya tadi Mas? Bagaimana dengan keputusan saya memberi penalti?,” pertanyaan itu membuka percakapan kami malam itu.

Beberapa jam sebelumnya, Purwanto memang memimpin pertandingan sarat gengsi antara Persija Jakarta kontra Persib Bandung di Stadion Gajayana, Malang. Duel tersebut dimenangi Persib dengan skor 2-1. Gol penentu kemenangan Persib lahir dari kaki Christian Gonzalez lewat eksekusi penalti pada menit 89.

Sebelum gol Gonzalez, kedudukan berimbang 1-1. Persib unggul dulu lewat gol tandukan Airlangga Sucipto lima menit setelah turun minum. Striker asing Persija asal Brazil yang pada putaran pertama berkostum Persib Fabio Lopez membalas pada menit 56.

Persib memperoleh penalti itu, setelah Purwanto menyatakan pemain Persija Aris Indarto melakukan pelanggaran terhadap Airlangga di kotak penalti. ”Menurut sampeyan pas tidak keputusan saya memberikan penalti tadi?,” tanya Purwanto lagi.

Dari nada suaranya, lelaki yang di masa kecilnya bercita-cita sebagai sopir bus tersebut tidak dalam posisi risau akan keputusannya di penghujung partai Persija lawan Persib itu. Purwanto hanya ingin memastikan bahwa keputusannya tersebut tidak salah.

Purwanto sadar bahwa sebagai manusia dirinya tidak akan pernah bisa luput dari salah. Namun, dirinya selalu berusaha untuk meminimalkan kesalahan. Termasuk dalam hal memimpin pertandingan. Purwanto ingin selalu memimpin dengan baik dan setipa keputusan yang diambilnya tepat.

Karena itu, Purwanto pun merasa perlu mendengar penilaian orang lain setiap kali usai memimpin pertandingan. ”Saya tidak ingin mengecewakan siapapun. Saya ingin selalu menjalankan tugas sesuai dengan atura,” ujar Purwanto.

Sama seperti sebelum-sebelumnya, malam itu, suami Indarsih tersebut pun ingin mendengar penilain objektif orang lain akan kepemimpinannya. Lebih-lebih kepemimpinan Purwanto malam itu bisa jadi menjadi tugas terakhirnya sebagai wasit.

Memang musim kompetisi sepak bola Indonesia musim ini belum sepenuhnya berakhir. Sebab, Copa Indonesia IV masih berjalan. Juga masih terdapat partai playoff ISL yang mempertemukan Persebaya Surabaya kontra PSMS Medan 30 Juni nanti. Namun, secara umum, kompetisi musim ini telah berakhir 10 Juni kemarin.

Sesuai regulasi, musim depan Purwanto harus purnatugas sebagai wasit. Sebab, pada 24 September mendatang, bapak dua anak itu genap 46 tahun. Itu artinya usia Purwanto sudah mencapai batas akhir sebagai wasit. Usia wasit memang dibatasi hanya sampai 46 tahun.

”Bagi saya mau itu awal atau akhir tidak ada bedanya. Sebab, keinginan saya hanya ingin bertugas sebaik mungkin. Tapi, bagaimanapun juga, saya tetap ingin mengakhiri perjalanan wasit dengan baik,” akunya.

Dan bagi saya, penampilan Purwanto malam itu tidak bisa saya katakan buruk. Tentu pula tidaklah sempurna. Pasalnya, ada beberapa momen yang luput dari pengawasannya. Salah satunya ketika Ismed Sofyan mendorong kepala bagian belakang Siswanto saat injury time.

Secara umum, Purwanto telah bertugas cukup baik. Bagi saya, keputusannya menghukum Persija dengan penalti cukup tepat. Sebab, dua pemain Persija melakukan gangguan yang sangat cukup berbahaya kepada Airlangga di kotak penalti. Ada Agus Indra Kurniawan yang mendorong Airlangga dari belakang. Terdapat juga Aris Idarto yang menangkat kaki kanannya terlalu tinggi. Bahkan kaki pemain asal Sragen itu sejajar dengan perut Airlangga.

Jadi, bagi saya Purwanto telah mengakhiri tugasnya dengan sangat indah. Secara pribadi saya kagum dengan perjalanannya sebagai wasit nasional yang dilakoni sejak 1993 hingga 10 Juni 2009. Saya bertambah kagum bukan saja karena penampilannya pada 10 Juni 2009 itu. Tapi, karena pertemuan saya dengan ”seseorang” di Peecock CafĂ© Hotel Sultan, Jakarta, 25 Mei 2009.

Malam itu-25 Mei 2009-”seseorang” itu bicara blak-blakan dengan saya. Salah satu omongannya tentang wasit Indonesia. Dia menyebut bahwa hanya ada satu wasit yang tidak pernah memakan uangnya. Dan orang yang disebut itu adalah Purwanto.

Sampai titik ini saya sangat kagum dengan Purwanto. Tapi, pada titik ini pula saya merasa kehilangan beliau. Kehilangan sosok sopir bus yang telah menjadi oase di tengah coreng-morengnya sepak bola Indonesia. Musim depan, saya tidak bisa melihat lagi ketegasannya memimpin pertandingan. Sebab, sopir bus itu telah sampai terminal.

Nama : Purwanto
Lahir : Kediri, 24 September 1963
TB/BB : 180 cm/72 kg
Orang Tua : (alm.) Sumowinoto-Mastain
Istri : Indarsih
Anak : – Rizki Eka Saputra
- Ardi Kharismaulana

Karir
– Sukarelawan Puskesmas Bogo Kidul, Plemahan, Kediri (1989)
– Honerer Dispenda, Kab. Kediri (1996)
– PNS di seksi pertamanan Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Kediri (2002)
– Wasit C3 (1989)
– Wasit C2 (1991)
– Wasit C1 (1993)
– Asisten wasit FIFA (1995)
– Ketua komisi wasit Pengda PSSI Jatim (2006-2010)

Prestasi
– Wasit Terbaik Indonesia (2002)
– Wasit Terbaik versi antv Award (2003)
– Memimpin Final Liga Indonesia antara Persita Tengerang v Petrokimia Gresik (2002)
– Memimpin Final Liga Indonesia antara Persija Jakarta v Persipura Jayapura (2006)
- Wasit terfair play versi Jawa Pos (2007)
Read More..