29 Desember 2008

Yang Seharusnya Diistimewakan justru Selalu Dikorbankan

Putaran kedua Indonesia Super League (ISL) 2008/2009 belum juga dijalankan. Namun, perubahan jadwal sudah terjadi. Perubahan itu tercatat sebagai perubahan yang ke 52 sepanjang musim ini. Dan lagi-lagi, klub, sponsor, dan ofisial patner kompetisi yang seharusnya diistimewakan kembali dijadikan korban.

”Apapun keputusan PSSI, yang jelas klub tetap dirugikan,” sebut Ferry Indrasjarief, asisten manajer Persija Jakarta. Kalimat itu terlontar lantaran keputusan kontroversi PSSI akan perjalanan putaran kedua ISL 2008/2009 dan pemusatan latihan tim nasional (Timnas) Indonesia.

Awal pekan lalu (23/12), PSSI mengeluarkan keputusan sulit untuk klub. Dimana, PSSI menegaskan bahwa putaran kedua ISL 2008/2009 berjalan sesuai jadwal yang dirilis 3 Desember 2008. Artinya, kompetisi bakal bergulir mulai 3 Januari 2009 dan berakhir 14 Juni 2009. Disisi lain, PSSI juga memutuskan bahwa pemusatan latihan Timnas berjalan terus dengan konsekuensi para pemainnya dilarang membela klub di kompetisi.

Kontan keputusan itu diprotes klub. Utamanya klub-klub yang menyumbang lebih dari dua pemain di Timnas. Sebut saja seperti Persija, Sriwijaya FC Palembang, atau Persib Bandung. Mereka keberatan harus berkompetisi tanpa beberapa pilarnya. Protes itu pun membuat PSSI berubah pikiran. Otoritas sepak bola Indonesia itu lantas meminta Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) merevisi jadwal.

BLI pun merevisi jadwal. Terutama dua pertandingan setiap klub diawal putaran kedua yang dihelat dalam rentang waktu dari 3 hingga 12 Januari 2009.

Nah, keputusan PSSI merevisi jadwal itupun tetap memberatkan klub. Dengan revisi tersebut, klub dibayangi kerugian materi yang tidak kecil. Bahkan, bayang-bayang itu sudah menjadi kenyataan ketika revisi jadwal disampaikan BLI. Beberapa klub terpaksa membatalkan pemesanan tiket pesawat dan hotel untuk keperluan away awal Januari 2009.

Seperti dua tim Papua, Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena yang seharusnya away ke Jakarta dan Lamongan. Atau dua tim dari bumi Kalimantan Timur, PKT Bontang dan Persiba Balikpapan.

Untuk keperluan away awal Januari, mereka sudah memesan tiket pesawat dan hotel pertengahan Desember ini. Lantaran ada revisi jadwal, pemesanan itu dibatalkan. Imbasnya, mereka pun harus membayar uang ganti rugi yang tidak kecil. Sebab, umumnya, pembatalan tiket pesawat dan hotel dikenai kompensasi pembatalan di atas 5 persen.

Kerugian klub bukan hanya berhenti pada pembatalan tersebut. Tapi, problem lebih besar adalah pembengkakan biaya akibat revisi tersebut. Jika sampai revisi ini membuat akhir kompetisi menjadi molor, maka setiap klub harus mengeluarkan biaya tambahan. Jumlahnya pun pasti tidak sedikit.

Persiba misalnya. Jika akhir kompetisi molor, maka tim berjuluk Beruang Madu itu harus menyiapkan tambahan uang tidak kurang dari Rp 600 juta. Uang tersebut untuk membayar gaji pemain serta membiayai akomodasi tim.

Kalaupun akhir kompetisi tidak molor, klub pun terkesan membuang sia-sia uangnya selama sebulan lantaran revisi jadwal. ”Pembuangan” itu terjadi di bulan Januari. Sebab, selama bulan Januari, para pemain seperti mamakan gaji buta yang harus dikeluarkan klub. Sebab, sudah waktunya pemain bertanding, justru mereka masih berkutat dalam latihan. Ingat, karena revisi jadwal kali ini, jeda kompetisi dari putaran satu ke putaran kedua lebih dari dua bulan. Jeda yang tentu tidak lazim. Umumnya, jeda kompetisi berkisar satu bulan.

Kerugian klub bukan saja soal materi. Tapi, karena revisi jadwal faktor teknis klub juga terganggu. Sebab, setiap pelatih harus mengubah program latihannya. Jika sebelumnya pemain sudah mulai disiapkan kembali berkompetisi pada 3 Januari 2009, mereka harus memutar otak kembali. Dimana, kondisi pemain dibuat siap berkompetisi sebulan kemudian.

Pekerjaan yang tidak mudah tentunya. Sebab, perubahan itu tidak sekedar menyangkut fisik dan strategi. Namun, juga menyentuh mental para pemain. Jelas sesuatu yang sulit bagi pelatih harus mengerem gelora bertandingan para pemain. Apalagi, menghentikannya ketika semangat itu sudah hampir mencapai puncak. Setelah itu, sebulan kemudian, para pelatih justru dituntut kembali menyalakan gelora tersebut. Jelas situasi yang sulit untuk dihadapi dan dipecahkan.

Klub bukan satu-satunya yang dirugikan. Sponsor kompetisi dan juga sponsor klub juga menjadi korban. Selain itu, offisial patner seperti Antv pun seperti dikorbankan. ”Sebab, setiap program acara, itu sudah dirancang sebulan sebelumnya,” ungkap Reva Dedy Utama, Head Of Sport Antv.

Bisa dibayangkan betapa beratnya kerja Reva dan krunya untuk menyiapkan program pengganti akibat revisi jadwal tersebut. Apalagi yang harus disiapkan durasinya tidak kurang dari 12 jam.

Ditengah situasi itu, mau tidak mau mereka juga harus berurusan dengan sponsor. Sebab, ketika program sudah disusun, sponsor sudah terlanjur masuk. Nah, dengan perubahan itu, maka mereka harus membayar kompensasi ke sponsor. Lagi-lagi jumlahnya pasti tidak kecil.

Jadi, seperti yang diutarakan Ferry, apapun keputusan PSSI, mereka yang harusnya diistimewakan justru dirugikan. Padahal, di era sepak bola profesional, seharusnya mereka diutamakan. Sebab, mereka yang mengeluarkan banyak uang. Mereka telah berdarah-darah untuk tetap eksis mengikuti kompetisi.
Sebaliknya, PSSI tidak mengeluarkan sepeserpun uang. Untuk menjalankan kompetisi, mereka ditopang sponsor. Uang yang ”disetor” sponsor pun jumlahnya miliaran. PSSI juga mendapatkan uang dari pembelian hak siar televisi.

Untuk itu, PSSI harusnya lebih bijak dalam bersikap. Jangan selalu mengorbankan klub, sponsor, dan offsial patner. Jika terus-menerus seperti itu, sponsor tentu bakal lari. Kalau alasan revisi jadwal kali ini karena pemusatan Timnas, maka PSSI seharusnya memplanning agenda Timnas jauh-jauh hari. Jangan mendadak.

Toh, jadwal pertandingan resmi Timnas selalu sudah dirilis jauh-jauh hari oleh federasi di atas PSSI. Misalnya, jadwal Pra Piala Asia. AFC pasti sudah merilis jadwalnya jauh hari sebelum hari pertandingan. Bahkan, bisa setahun atau dua tahun sebelumnya.

Itu artinya, PSSI sudah semestinya menyusun program Timnas jauh hari. Kalau itu dilakukan, pasti jadwal kompetisi tidak bakal terganggu. Sebab, BLI pasti dalam menyusun jadwal menyesuaikan agenda Timnas. Dan akhirnya, mereka yang seharusnya diistimewakan, tak lagi dikorbankan.
Read More..

26 Desember 2008

Menanti Janji Bendol (Lagi)

Merah Putih layu sebelum akhir. Kenyataan pahit itu kembali harus kita pandang. Tim nasional (Timnas) Indonesia yang kita harapkan menggapai prestasi di Piala AFF 2008 kandas di semifinal. Tiket harus rela diserahkan ke Thailand yang mampu menggungguli Indonesia 3-1 (1-0 di Jakarta, 2-1 di Bangkok) di semifinal.

Dan itu artinya Benny Dolo gagal memenuhi targetnya. Sesuai kontrak, Bendol-begitu Benny Dolo akrab disapa-ditarget membawa Indonesia lolos ke final Piala AFF 2008. Bendol sendiri juga berjanji untuk memenuhi target tersebut. Kendati gagal, Benny Dolo ternyata dinaungi keberuntungan. Dia tetap dipercaya memangku jabatan pelatih Timnas Indonesia hingga kontraknya berakhir Februari 2010.

Dan tentu Benny Dolo harus menjawab kepercayaan tersebut. Dan jawaban yang harus diberikan adalah membawa Indonesia lolos ke Piala Asia 2011. Itu lantaran bukan saja karena Badan Tim Nasional (BTN) memasang target lolos ke Piala Asia 2011. Namun, lebih dari itu, Benny Dolo telah diberi kekeluasaan menyusun tim.

Mulai memilih 27 pemain yang diinginkan. Dimana, semua pemain itupun disetujui BTN. Bendol juga diperkenankan menjalani pemusatan latihan mulai hari ini, 27 Desember. Karena pemusatan latihan itu, jadwal putaran kedua Indonesia Super League (ISL) 2008/2009 pun diundur. Putaran kedua yang seharusnya dihelat 3 Januari, baru efektif dihajat Februari.

Jadi, sudah tidak ada alasan lagi bagi Bendol untuk tidak menjawab tantangan yang ada di pundaknya. Sebab, segala keperluan pelatih berusia 58 tahun itu telah dipenuhi. Bahkan, Bendol juga diberi fasilitas latihan yang nyaman. Tepatnya dia bisa menggenjot anak asuhnya di Lapangan Pelita Jaya Jawa Barat yang berada di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Di situ tersedia dua lapangan yang kualitasnya jauh lebih baik dari Lapangan Timnas di Senayan. Di situ juga terdapat fasilitan gym. Untuk istirahat, Bendol dan para pemain disediakan Hotel Sawangan Golf (sekitar 3 km dari Lapangan Pelita Jaya) yang nyaman. Sebuah penginapan yang jauh dari kebisingan. Penginapan yang sejuk nan asri.

Jadi, sekali lagi sudah tidak ada alasan bagi Bendol untuk tidak berprestasi. Semua kelonggaran dan keleluasan telah diberikan kepadanya. Bendol sendiri juga telah berkoar mampu memenuhi target lolos ke Piala Asia 2011. ”Saya optimis mampu memenuhi target tersebut,” kata mantan pelatih Arema itu.

Masyarakat pun menunggu janji Bendol tersebut. Dan minimal janji itu sudah harus mulai direalisasikan pria asal Manado tersebut pada 19 dan 28 Januari mendatang. Saat dimana, Indonesia melawat ke Oman (19 Januari) dan menjamu Australia (28 Januari).
Jika gagal, tentu pelatih asal Manado itu harus berbesar hati untuk mundur. Sebab, jika gagal lolos ke Piala Asia 2011, maka itu akan menjadi sejarah buruk bagi sepak bola Indonesia. Sebab, sejak 1996, Indonesia tidak pernah absen di putaran final Piala Asia.
. Read More..

Menunggu Lagi (Harus Ada Perubahan)

Malam yang kelam. Dan saya pun harus tertunduk lagi. Saya dan tentunya masyarakat Indonesia harus menanti lebih panjang lagi akan prestasi tim nasional (Timnas) Indonesia. Pasalnya, harapan melihat skuad Merah Putih berprestasi di Piala AFF 2008 harus pupus malam ini.

Bahkan, alih-alih juara, Indonesia malah gagal menembus partai final. Indonesia hanya sanggup bertahan hingga babak semifinal. Pasukan Garuda harus rela menerima kenyataan disingkirkan Thailand di semifinal. Kegagalan tersebut menyusul dua kekalahan yang diterima Indonesia dari Thailand di babak semifinal.

Setelah di first leg semifinal Indonesia dipermalukan 0-1 di Jakarta pada 16 Desember lalu, malam ini di second leg semifinal, Charis Yulianto kembali dikandaskan Thailand. Malam ini Indonesia ditekuk 1-2 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand.

Kenyataan yang jelas cukup pahit. Saya dan masyarakat Indonesia harus kembali menunggu. Pekerjaan yang tentu sangat melelahkan. Apalagi, sebelumnya kami sudah menunggu 17 tahun. Sejak Indonesia tidak mampu mempertahankan prestasi seperti tahun 1991, tatkala Merah Putih sukses menjuarai sepak bola SEA Games Manila.

Karena itu, saya pun sangat berat untuk bangkit dari tribun Stadion Rajamanggala. Ingin menangis rasanya. Tapi, airmata justru terasa berat mengalir dari pelupuk mata. Saya hanya bisa menghela nafas panjang untuk melepaskan beban berat ini.

Situasi yang bertolak belakang dengan menit kesembilan pertandingan. Saat itu, asa melihat Indonesia berpretasi sempat menyembul tinggi. Itu menyusul gol Nova Arianto memanfaatkan umpan Ismed Sofyan dari tendangan penjuru. (Gol yang menurut versi AFF merupakan gol bunuh diri Chonlatit Jantakam). Tapi, harapan tersebut buyar ketikaTeeratep Winothai membobol gawang Indonesia yang dikawal Markus Horison pada menit 72. Hati semakin tersayat saat Ronnachai Rangsiyo mencetak gol tiga menit jelang bubaran pertandingan.

”Meski Indonesia kalah, tetap semangat membuat berita,” pesan singkat seorang kawan dari Surabaya masuk ke telepon genggamku lima menit setelah pertandingan.

Saya pun berusaha bangkit dari tribun. Saya lalu berjalan menuju lorong pemain. Di situ saya bersua Benny Dolo-pelatih Indonesia. Kami pun berbincang. Saya juga masuk ke ruang ganti pemain. Semua tertunduk lesu. Tak terkecuali Charis Yulianto-kapten Indonesia-yang menyempatkan berbincang dengan saya. ”Mungkin ini hasil terbaik yang bisa kami capai,” kata Charis. Perkataan yang sama sebelumnya meluncur dari Benny Dolo ketika kami berbincang di lorong pemain.

”Inilah hasil terbaik yang bisa dicapai Indonesia saat ini”. Ironis terdengarnya. Sebab, Indonesia memiliki sejarah yang hebat di sepak bola Asia Tenggara. Bahkan, bangsa ini pernah menjadi Manca Asia. Saat ini, Indonesia juga punya kompetisi paling ketat di Asia Tenggara.

Jadi, ungkapan tersebut jelas ironis. Tapi, coba tengok apa yang terjadi di sepak bola Indonesia saat ini. Jika, kita jeli melihatnya, maka ungkapan Charis dan Bendol-sapaan akrab Benny Dolo-justru terdengar cukup logis.

Saat ini otoritas sepak bola Indonesia (PSSI) krisis legitimasi. Bukan saja dari masyarakat Indonesia, tapi juga dari dunia internasional. Sudah tahu minim legitimasi, sikap mereka juga seringkali inkonsistensi dalam bersikap. Seperti mengubah aturan dengan sekenanya sendiri.

Ambilnya contoh kompetisi sepak bola Indonesia. Berapakali, kompetisi dijalankan tanpa degradasi. Sebuah sikap salah tentunya. Sebab, bagaimanapun juga esensi kompetisi adalah persaingan. Dalam persaingan itu tentu ada penghargaan dan hukuman. Nah, salah satu bentuk hukuman tersebut adalag mendegradasi klub yang tidak berprestasi.

Contoh lain adalah aturan kuota pemain asing di kompetisi tertinggi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kuota pemain asing selalu lima. Sadar atau tidak, aturan itu jelas mereduksi kesempatan para pemain Indonesia, utamanya pemain muda berkembang. Jika sudah begitu, imbasnya tentu minimnya suplai untuk pemain Timnas. Akhirnya Timnas pun sulit berprestasi.

Jadi, bisa jadi bukan sesuatu yang salah ungkapan Charis dan Bendol. Justru kegagalan ini, kita harus sadar bahwa Indonesia memang sudah jauh tertinggal. Indonesia lagi bukan lagi bangsa nomor satu di sepak bola Asia Tenggara. Untuk itu, perubahan harus dilakukan.

Perubahan yang bukan sebatas pergantian pengurus PSSI. Tapi, juga perubahan cara berpikir kita dalam membangun sepak bola Indonesia. Sudah bukan saatnya melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan pribadi. Bukan saatnya melakukan segala sesuatu dengan cara instan. Dan perubahan itu harus segara kita lakukan agar harapan kita kepada Timnas tidak lagi sekedar berhenti pada hanya sekedar harapan.

Bangkok, 20 Desember 2008
Read More..

03 Desember 2008

Saatnya Jadi Juara

17 tahun sudah sepak bola Indonesia pacaklik prestasi. Selama itupula publik sepak bola negeri ini selalu dibuat mengelus dada oleh pencapaian tim nasional (Timnas) Indonesia. Harapan demi harapan yang mereka gantungkan kepada Timnas selalu berbalas pahit selama 17 tahun ini. Tak satupun ”gelar” yang mampu dipersembahkan Timnas ke publik.

Memang Agustus lalu, skuad Merah Putih sukses meraih gelar juara Piala Kemerdekaan 2008. Tapi, gelar itu tidaklah membanggakan bagi publik. Bukan saja kontestan Piala Kemerdekaan 2008 kurang berkualitas. Tapi, lebih dari itu, Indonesia juara dengan cara tidak elegan.

Libya yang menjadi lawan di final, tidak mau melanjutkan pertandingan babak kedua. Meski di babak pertama, Libya unggul 1-0. Mereka mundur karena merasa terintimidasi dengan tindakan anarkis offsial Indonesia saat jeda pertandingan.

Memang tahun 2000 lalu Indonesia juara Piala Kemerdekaan. Namun, seperti gelar juara yang diraih Pasukan Garuda Agustus lalu, tropi tahun 2000 itu juga tidak mampu menghapus dahaga publik. Sebab, ekspektasi pecinta sepak bola tanah air adalah melihat Indonesia minimal juara di tingkat Asia Tenggara.

Gelar seperti yang dicapai Indonesia tahun 1991 silam. Saat Indonesia berhasil menjadi yang terbaik di SEA Games 1991 yang berlangsung di Manila, Filipina. Kala itu, skuad Merah Putih sukses menggondol medali emas setelah menghempaskan Thailand melalui drama adu tendangan penalti.

Nah, Desember ini, pacaklik prestasi itu berpeluang diakhiri Indonesia. Kebetulan Timnas bakal berlaga di even sepak bola level Asia Tenggara. Pasukan Garuda akan terjun di Piala AFF 2008.

Publik pun telah menaruh harapan selangit akan cerita sukses Timnas di ajang tersebut. Harapan yang tentu sudah harus diwujudkan oleh Timnas. Sebab, menunngu selama 17 tahun jelas menjadi waktu yang sangat-sangat melelahkan bagi publik. Apalagi, menunggu sendiri merupakan hal yang menjenggelkan.

Jadi, jangankan menunggu 17 tahun, menunggu 1 detik saja sudah melelahkan. Karena itu, inilah saatnya bagi Pasukan Garuda mengakhiri penantian panjang masyarakat Indonesia akan prestasi Timnas.

Kesempatan untuk berprestasi itu sendiri kini terbuka bagi Indonesia di Piala AFF 2008. Indonesia punya keuntungan untuk bisa melenggeng lebih mudah ke semifinal. Keuntungan itu seiring status Indonesia sebagai tuan rumah Grup A. Dengan status tersebut, dukungan publik dipastikan mengalir deras ke Timnas. Sebab, semua tahu bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat gila bola..

Selain punya keuntungan, saat ini memang sudah menjadi waktinya Timnas juara. Apalagi, materi yang dimiliki Timnas saat ini mayoritas sudah kenyang pengalaman laga internasional. Mayoritas juga sudah lama berkolaborasi dengan balutan seragam Timnas. Jadi, satu sama lainnya sudah paham akan karakter permainan rekannya. Kekompakan mereka juga sudah tidak perlu lagi disangsikan.

Yang tidak kalah penting, sebagian besar skuad Timnas saat ini usianya sudah dia atas 25 tahun. Tercatat 15 pemain usianya lebih dari 27 tahun. Nama-nama itupun mayoritas menghuni komposisi utama. Sebut saja seperti Bambang Pamungkas, Budi Sudarono, Charis Yulianto, Ismed Sofyan, Isnan Ali, Firman Utina, atau Ponaryo Astaman.

Dari daftar 23 pemain yang ada, hanya empat anggota Timnas yang kini usianya di bawah 25 tahun. Dan cuma dua orang yang mengisi line up utama. Yakni Arif Suyono dan Muhamad Roby.

Dengan fakta tersebut, bisa jadi Piala AFF 2008 ini akan menjadi kesempatan akhir mayoritas dari mereka untuk berseragam Timnas. Jadi, ini memang saat yang tepat bagi mereka mempersembahkan gelar juara. Sebab, jika gagal, maka bukan tidak mungkin tidak ada lagi kesempatan bagi mereka mengantarkan Indonesia ke tangga juara.
Jadi, inilah saat tepat mengakhiri paceklik prestasi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Read More..

14 November 2008

Bom Waktu

Putaran pertama kompetisi ”profesional” Indonesia musim ini sebentar lagi berakhir. Baik itu di level Indonesia Super League (ISL) maupun Divisi Utama. Banyak masalah menerpa. Tak sedikit klub yang oleng. Bahkan, beberapa diantaranya mengisyaratkan bakal lempar handuk.

Tanda bahwa ada masalah di kompetisi ”profesional” Indonesia sebenarnya sudah terlihat dipertengahan putaran pertama. Kala itu, beberapa klub berteriak tidak kuat melanjutkan perjalanannya.

Gaji pemain mulai telat dibayar. Beberapa diantaranya bahkan belum menggaji pemainnya hingga sekarang. Tak sedikit pula yang rela berhutang agar timnya tetap berjalan. Setidaknya itulah tanda-tandanya.

Nah, kini ketika kompetisi hendak memasuki masa istirahat, teriakan klub semakin lantang. Isyarat mundur dari kompetisi diletupkan. Salah satunya bahkan datang dari klub yang menjadi kekuatan utama sepak bola Indonesia, PSM Makassar. ”Kami belum mundur. Tapi, pengelola sudah tidak sanggup lagi menjalankan tugasnya. Kini kami sedang mencari solusi menyelamatkan perjalanan tim ini,” aku Ilham Arief Sirajuddin, ketua umum PSM.

Menurut Ilham, saat ini kantong PSM sudah kosong. Juku Eja-julukan PSM-disebutnya sudah menghabiskan dana Rp 13 miliar. Untuk mengarungi lanjutan kompetisi, mereka butuh dana Rp 7 miliar. ”Kini kami menunggu dana pemerintah provinsi Sulawesi Selatan,” kata Ilham.
Jika bantuan itu tidak cair, maka PSM bakal semakin tersudut. Apalagi, kucuran dari pihak sponsor tidak cukup menutup kekurangan PSM. ”Jika tidak ada solusi, bukan tidak mungkin kami langkah akan terhenti,” ujar Ilham.

Jeritan yang sama berkumandang dari Bumi Serambi Mekkah. ”Kami pun sudah sekarat. Ibaratnya nafas kami kini tinggal sepenggal. Kalau kondisi tidak berubah, kami pun akan mundur di putaran kedua nanti,” ungkap Azis Fandila, manajer PSSB Bireun.

Kondisi PSSB memang jauh lebih kronis dari PSM. Klub yang bermarkas di Stadion Cot Gopu itu belum membayar gaji pemainnya selama tujuh bulan. Karena itu, selama 20 hari lalu, PSSB ditinggal pulang para pemainnya. Mereka enggan melanjutkan tugasnya lantaran haknya tidak juga dipenuhi. ”Kalau tetap tidak ada yang membantu, mundur akan menjadi pilihan terbaik kami. Sebab, kalaupun kami bertahan dengan mengandalkan pemain lokal Aceh, kami tidak sanggup membayar biaya away,” sebut Azis Bengkel-sapaan Azis Fandila.

Setali tiga uang dengan PSSB adalah Persitara Jakarta Utara. Meski berstatus tim Ibukota, tapi kondisinya juga mengenaskan. ”Sejak April kami belum membayar gaji para pemain,” jujur Harry ”Gendhar” Ruswanto, manajer Persitara. Hanya bedanya, Persitara belum menyerah. Laskar Si Pitung-julukan Persitara-mencoba untuk tetap bertahan. Mereka masih sangat optimis bisa berjalan hingga akhir laga. Komitmen itupula yang coba dipertahankan Iwan Boedianto yang menakohdai Persik Kediri yang kini sekarat.

Selain PSM, Persik juga menjadi tim besar yang sedang oleng. Macan Putih-julukan Persik-dikabarkan masih menunggak pembayaran gaji para pemainnya selama tiga bulan. Uang muka kontrak pemain juga belum dibayarkan. Karena kondisi itu, badai eksodus pemain kini menerpa Persik. Yang bakal pergi itupun merupakan para pilar Persik. Diantaranya adalah Budi Sudarsono, Aris Indarto, serta Danilo Fernando.

Nah, apa yang terjadi tersebut jelas bukan hal biasa. Situasi ini bisa menjadi bom waktu bagi kompetisi ”profesional” Indonesia. Apalagi, yang bermasalah bukan hanya tim-tim yang telah disebut di atas. Di level ISL, masih ada nama Persija Jakarta atau Sriwijaya FC Palembang. Sedang dari Divisi Utama lebih banyak lagi. Sebut saja seperti Persebaya Surabaya, PSIM Jogjakarta, Persis Solo, atau Persibom Boloang Mongondow.

Dengan kondisi yang melanda mereka, bukan tidak mungkin ancaman mundur itu nantinya bakal menjadi kenyataan. Nah, jika benar ada yang mundur, maka laju kompetisi bakal terguncang. Apalagi, kalau yang mundur tidak hanya satu tim. (contohnya pun sudah tersaji di Copa Indonesia IV, Persibom, Persis, dan PSSB sudah menarik diri). Jadwal kompetisi jelas akan semakin tidak sedap dinikmati.

Selain itu, dengan tetap bertahannya tim-tim yang sedang sakit juga bakal menjadi kerikil tersendiri bagi kompetisi. Sebab, bukan tidak mungkin mereka akan berjalan setengah hati. Alhasil, jalannya pertandingan bisa jadi tak lagi menjadi menarik dan tak lagi indah. Pasalnya, klub tidak lagi ngotot mengejar kemenangan.

Pun demikian dengan para pemain. Karena tak kunjung gajian, mereka bisa saja tampil apa adanya. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, mereka tampil penuh emosi. Toh contohnya sudah tergambar di Gelora Ambang, Kotamobagu, Rabu (12/11) lalu. Dimana, pemain PSIR Rembang ramai-ramai mengeroyok wasit. Saya percaya, pengroyokan itu pasti bukan karena ketidakpuasan mereka terhadap keputusan wasit. Bisa jadi juga karena letupan kemarahan karena kondisi yang mereka alami di luar lapangan (baca : belum gajian).

”Kami tidak dalam kondisi marah, sedih, atau tertawa dengan apa yang terjadi. Kami yakin mereka bisa menjadi dokter untuk menyembuhkan rasa yang kini mereka rasakan. Kami pun optimis kompetisi ini tetap berjalan hingga akhir,” sebut Joko Driyono, direktur kompetisi Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI).

Sah-sah saja, BLI bersikap begitu. Tapi, masalah yang terjadi saat ini harus segera diselesaikan bersama-bersama. Tidak terkecuali oleh BLI. Sebab, BLI juga punya "dosa" akan terjadinya hal ini. Dosa itu setidaknya dengan langkah BLI menerbitkan lisensi klub profesional kepada 18 tim yang ternyata beberapa diantaranya sekarang sedang sekarat. Jika, ini tidak segara diselesaikan, maka bom waktu itu bakal meledak. 
 




Read More..

09 November 2008

Pergi Membawa Mimpi (seri pita hitam)



Impian Ronny Pattinasarany harus pupus sebelum dimulai. Rencana legenda sepak bola Indonesia itu untuk membuat buku kedua urung teralisasi. Pasalnya, sebelum buku itu ditulis, Ronny sudah lebih dulu berpulang. ”Papa berencana membuat buku tentang pengalaman dan perjalanan hidupnya. Tapi, Tuhan ternyata berkehendak lain,” ungkap anak kedua Ronny, Hendry Jacques Pattinasarany atau yang akrab disapa Yerry.

Ya, siang itu Jumat 19 September 2008 sekitar pukul 13.30 WIB, Ronny tutup usia. Pemain tim nasional sepak bola Indonesia di era 70 hingga 80-an itu menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Omni Medical Center, Jakarta Timur. Ronny meninggal dalam usia 59 tahun dan meninggalkan satu orang istri dan tiga orang anak.

Pria asal Makassar tersebut berpulang setelah bergelut lama dengan kanker. Pada akhir tahun lalu, Ronny divonis mengidap kanker pankreas. Dia pun harus menjalani perawatan di Guangzhou, Tiongkok. Meski sudah berobat ke Tiongkok, kesehatan Ronny tak juga membaik. Hal itu lantaran kanker yang menyerangnya sudah menjalar ke beberapa bagian lain tubuhnya.
Mula-mula menjalar ke liver. Kemudian merambah ke tulang belakang serta paru-paru Ronny. Akhir Agutus lalu, Ronny memutuskan kembali ke tanah air. Tapi, tak lama menghirup udara di luar rumah sakit, mantan pelatih Petrokimia Gresik itu harus kembali dilarikan ke rumah sakit pada Selasa16 September.

Setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Omni Medica Center, nyawa Ronny akhirnya tidak tertolong lagi. ”Kami ikhlas melepas kepergiannya. Kami akan selalu mengingat Papa sebagai pahlawan keluarga kami,” ujar Yerry.

Ronny memang pahlawan bagi keluarga. Utamanya bagi Yerry dan sang kakak Robenno Pattrick Pattinasarany (Benny). Selama bertahun-tahun, Ronny berjuang untuk melepaskan kedua putranya itu dari jeratan narkoba. Waktu, tenaga, dan juga materi semua dicurahkan Ronny untuk menyembuhkan Benny dan Yerry. Bahkan, kursi pelatih Petrokimia pun harus ditinggalkan demi buah hatinya tersebut.

Perjuangan tak kenal lelah itupun membuahkan hasil. Kedua anaknya berhasil lepas dari ketergantungan narkoba. Perjalanan panjang menyelamatkan sang buah hatinya itu, lalu dituangkannya dalam sebuah buku berjudul Dan, Kedua Anakku Sembuh dari Ketergantungan Narkoba, yang terbit 2006 lalu.

”Atas nama pribadi dan Badan Tim Nasional (BTN), kami mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya,” ujar Rahim Soekasah, ketua BTN. Sebelum berpulang, Ronny masih tercatat sebagai anggota tim monitoring BTN. Di tempat itu Ronny bekerja dengan Risdianto. Sebelumnya, Ronny juga bekerja bersama dengan Iswadi Idris. Namun, Iswadi harus mengakhiri tugasnya pada 11 Juli 2008 lalu karena meninggal dunia.






Read More..

Dokter Pencetak Bintang Lapangan Hijau


Mengenang Endang Witarsa (seri pita hitam)

Tessa, cucu Endang Witarsa, tak bisa menahan tangis. Masih segar terekam dalam benaknya bagaimana ”bandelnya” sang kakek selama tiga minggu dirawat di rumah sakit baru-baru ini. ”Selama di rumah sakit, yang diomongin sepak bola melulu. Siapa saja yang menjaga atau menjenguk, harus siap diajak ngomong bola,” kenang Tessa.

2 April silam, sekitar pukul 04.30 WIB, kakek yang ”bandel” itu harus mengakhiri pertautannya dengan sepak bola. Endang Witarsa harus tutup usia jelang ulang tahunnya ke-92 pada 4 Oktober akibat komplikasi penyakit. Mantan pelatih Warna Agung di era Galatama yang juga menyandang gelar dokter gigi itu meninggalkan 4 anak, 12 cucu, dan 7 cicit.  ”Hidupnya memang (didedikasikan) untuk sepak bola. saya angkat topi untuk totalitasnya di sepak bola. Sebagai seorang muridnya, saya tentu kehilangan atas kepergian beliau,” ujar Benny Dollo, pelatih tim nasional Indonesia.

Memang, tak hanya keluarga yang ditinggalkan pria kelahiran Kebumen tersebut. Endang Witarsa juga mewariskan begitu banyak pemain hebat untuk persepak bolaam tanah air, hasil pengabdian panjangnya sebagai pelatih.

Pengabdiannya bahkan terus dijalankannya hingga menjelang tutup usia. Dia dengan melatih tekun Union Makes Strength (UMS) di Lapangan Petak Sinkian, Jakarta. Diantara muridnya ada nama-nama kondang macam Iswadi Idris, Ronny Pattinasarani, Yudo Hadianto, atau Widodo Cahyono Putro. Dua nama yang disebut diawal telah berpulang tahun ini.

Endang Witarsa meninggal di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta. Dia dikebumikan di San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat. Di dalam peti, di sisi kanan dan kiri jenazahnya diletakkan bola warna putih dengan garis hijau.

Itulah barangkali sedikit simbol yang mewakili kecintaan pelatih yang dikenal tegas dan disiplin tersebut di lapangan hijau. Kecintaan yang membuatnya berani menghadapi segala kesulitan. Baik itu kesulitan finansial, fasilitas, bahkan tubuh yang menua.

Bahkan, beberapa jam sebelum tutup usia, kecintaan itu masih ditunjukkannya. Bersama Tessa, Endang Witarsa menyaksikan dengan antusias pertandingan perempat final Liga Champions 2007/2008 antara AS Roma melawan Manshester United yang ditayangkan langsung salah satu stasiun televisi.

Selamat jalan, Dokter Sepak Bola. Terima kasih atas jasa-jasamu. Kami akan berusaha untuk terus menjaga nyala api pembangunan sepak bola Indonesia.





Read More..

25 Oktober 2008

Sang Guru Menimba Ilmu Bersama Anaknya

Di blantika sepak bola nasional, nama M. Basri bisa disebut sebagai mahaguru. Betapa tidak, pria asal Makassar itu sudah berkecimpung di pentas sepak bola nasional di tiga generasi berbeda.
Sudah banyak pemain hebat yang besar dalam polesannya.

Bahkan, sudah banyak anak didiknya yang kini menjadi pelatih handal di tanah air. Entah itu anak didik yang pernah dibesutnya di Niac Mitra Surabaya, Persebaya Surabaya, Arema Malang, atau di tim nasional (Timnas). Kendati begitu, M. Basri tak pernah berhenti untuk menimba ilmu sepak bola. Dia tidak pernah rela membiarkan semangat belajarnya padam. Om Basri-begitu saya memanggilnya-tetap bersemangat untuk terus menimba ilmu, walau usianya tahun ini nanti genap 66 tahun.

Bilangan usia yang sudah tentu saja terbilang uzur. ”Ini adalah tuntutan profesi. Jadi saya harus jalani proses belajar ini terus-menerus,” tutur Om Basri ketika berbincang dengan saya di Lapangan Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis 10 April 2008 silam.

Karena itupula, Om Basri tidak pernah merasa malu untuk belajar. Meski dalam proses tersebut dia harus berada satu kelas dengan mantan murid-muridnya. Harus berdiskusi dengan anak-anak yang dulu dibimbingnya. Nah, cerminan itu seperti halnya yang saya saksikan di kursus kepalatihan lisensi A AFC di Rawamangun, April silam.

Dimana, Om Basri belajar bersama-sama dengan beberapa pelatih yang pernah diasuhnya. Ada nama-nama anak didiknya di Niac Mitra seperti Riono Asnan, Suharno, Yudi Suryata, Jaya Hartono, Hanafing, atau Subangkit. Terdapat pula Herry Kiswanto yang pernah dipolesnya di Timnas. Atau Agus Yuwono yang menjadi asistennya di Persela Lamongan. ”Saya tidak risau dengan situasi ini. Sebab kita memang sama-sama membutuhkan ini (kursus lisensi A AFC, red),” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan mereka justru dijadikan motivasi. Sebagai orang yang pernah mengajari mereka, Om Basri merasa tidak boleh kalah dengan mereka. Karenanya, pelatih yang empat kali mencecap gelar juara Galatama itu jadi lebih giat dan bersemangat dalam mengikuti kursus kepelatihan tersebut. Setiap pelajaran yang diberikan instruktur pun diresapi dengan serius oleh Om Basri.”Masak kalah sama yang lebih muda. Kan tidak enak,” selorohnya.sambil tersenyum.

Selain itu, keberadaan Riono Asnan dkk juga membuat M. Basri lebih nyaman. Situasi di tempat kursus, dirasaknya seperti berada di tengah-tengah keluarganya sendiri. ”Saya merasa bukan di Jakarta, tapi di Surabaya. Di mes Niac Mitra,” akunya.
Read More..

20 Oktober 2008

Mencari Solusi Atas Krisis


Perjalanan kompetisi sepak bola nasional musim ini terancam berhenti sebelum berakhir. Banyak klub yang mulai berteriak tak kuat melanjutkan perjalanan. Mereka dililit problem keuangan. Jika tak ada solusi, ancaman itu bisa jadi kenyataan. Lalu, apa solusinya?

Nasi telah menjadi bubur. Kompetisi sudah berada di tengah jalan. Entah itu Indonesia Super League (ISL) maupun Divisi Utama 2008/2009. Dan banyak klub yang telah mengontrak pemain dengan tidak rasional. Dimana, meski uang belum didapat, banyak klub tetap mengikat kontrak pemain dengan nilai tinggi.

Kini masalah menghadang klub. Utamanya klub-klub plat merah. Gaji pemain terlambat dibayar. Bahkan, ada yang belum dibayar. Tak sedikit pula yang berhutang agar tetap bisa melakoni pertandingan. Ada juga klub yang siap melego pemainnya. Situasi ini semua karena dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang mereka harapkan tidak mengucur.

Eksistensi kompetisi musim ini pun ikut terancam. Nah, di tengah situsi seperti ini, saling menyalahkan tentu bukan sikap yang arif. ”Mundur di tengah kompetisi jelas bukan sikap yang sportif,” sebut Iwan Syafe’i, tokoh sepak bola asal Jawa Timur.

Demi kelangsungan kompetisi, solusi pun harus ditemukan. Jika tidak, maka kompetisi musim ini bisa jadi benar-benar berhenti sebelum berakhir. Lantas apa solusi untuk keluar dari krisis ini?

Arif Budi Santoso coba menawarkan solusi. Manajer PKT Bontang itu mengajak semua klub duduk bersama. Berpikir untuk merumuskan cara terbaik memangkas pengeluaran klub. Sasaran utamanya adalah pos untuk pembiayaan kontrak pemain. Sebab, anggaran kontrak pemain merupakan pengeluaran terbesar klub. ”Agak repot memang. Sebab, semua sudah tertuang dalam kontrak. Mengubahnya jelas sulit,” kata Arif.

Namun, Arif memandang perubahan itu masih bisa dijalankan. Tentunya ada beberapa syarat. Pertama, ada kesepakatan semua klub. Kedua, klub harus komitem menjalankannya. Ketiga, tentu tidak terlalu merugikan pemain. Dalam artian antara kepentingan klub dan hak pemain tidak timpang. ”Jika semua klub bersuara sama, saya pikir pemain pasti mengikutinya. Namun hal itu juga harus diperkuat dengan regulasi dari PSSI dan BLI,” urai Arif.

Solusi lain disodorkan Iwan Syafe’i. Manajer Bentoel Galatama di era 80-an itu berpendapat bahwa prestasi adalah jawaban untuk keluar dari krisis. Dengan prestasi, klub bisa menjual diri. Baik kepada sponsor maupun penonton. Jika klub selalu tampil apik, penonton pasti akan membanjiri stadion.

Dengan begitu, sponsor pun bakal tertarik masuk ke klub. Dan kucuran APBD tak lagi diperlukan. ”Tapi, kondisi itu harus diimbangi dengan manajemen yang baik. Jika dikelola dengan baik, sumber itu bisa diandalkan untuk menghidupi klub,” papar Iwan.

Solusi Iwan juga harus diimbangi oleh kedewasaan semua komponen kompetisi. Dalam konteks ini, semua komponen kompetisi harus mampu menciptakan situasi kondusif. Jangan lagi ada aksi anarkis.

”Dan yang perlu dilakukan lagi adalah membuka sekat akan aturan sponsorship. Perubahan aturan sponsorhip harus dilakukan. Perubahan itu sebagai salah satu langkah mengurai keadaan (krisis keuangan, red) saat ini,” usul Iwan.

Aturan yang dimaksud Iwan tidak lain ada larangan bagi klub menggandeng sponsor yang sejenis dengan sponsor kompetisi. Seperti diketahui, ajang Indonesia Super League (ISL) musim ini disponsori PT Djarum. Dengan begitu, klub tidak diperkenankan menggaet perusahan rokok lain sebagai sponsornya.

Menurut Iwan, aturan itu jelas menyulitkan klub. Sebab, perusahaan jenis tersebut cukup potensial menjadi sponsor. ”Setiap produk, apalagi rokok, itu punya pangsa pasar sendiri. Jadi, BLI tidak perlu melakukan pembatasan. Buka lebar-lebar aturan sponsor biar klub bisa hidup,” jabarnya.

Jika tetap berharap kepada APBD, Masfuk menawarkan solusinya. Ketua Umum Persela Lamongan itu menyebut klub harus berani transparan dalam penggunaannya. Klub harus berani mengikuti aturan yang ada. Sekaligus juga harus berani menegakkan aturan. ”Kalau niatnya bagus, kenapa harus takut,” ujarnya.

Ketakutan menggunakan dan APBD dinilainya tidak beralasan. Sebab, tidak ada larangan khusus penggunaannya. Yang ada hanyalah aturan dalam menggunakannya. Menurut Masfuk, setiap klub harus jeli membaca dan menerapkan aturan itu. Jika ada ketakutan menggunakannya justru hal itu menimbulkan pertanyaan.

Masfuk menyebutnya pasti ada situasi yang tidak kondusif. Terutama menyangkut hubungan eksekutif, legislatif, dan masyarakat. Untuk itu, pria yang juga Bupati Lamongan tersebut menyarankan agar pengurus klub harus menciptakan situasi yang kondusif di daerahnya. Dengan begitu, klub akhirnya tetap bisa menggunakan dana APBD. ”Klub sepak bola adalah sarana promosi dan memasarkan daerah,” sebutnya.

Menurutnya, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan, jika daerah harus melakukan promisi lewat iklan di telivisi. Padahal, melalui sepak bola, biaya jauh lebih kecil. ”Ingat, kalau tim kita ditayangkan langsung itu sama artinya kita promosi daerah. Nah, biayanya kan lebih rendah, jika dibanding kita harus beriklan. Itu yang harus jeli dibaca,” terang Masfuk.

Sekarang, bola ada di tangan masing-masing klub. Sebab, seperti dikatakan Direktur Kompetisi Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) Joko Driyono, klublah yang tahu bagaimana caranya keluar dari krisis finansial saat ini. ”Mereka yang merasakan, jadi merakalah yang tahu pasti obatnya,” ucap Joko.



Read More..

Dua Wajah Gonzalez


Christian Gonzalez. Segores nama yang bagi saya sangat tidak bersahabat bagi penjaga gawang lawan. Striker asal Uruguay tersebut begitu liar untuk urusan mencetak gol. Ibarat mesin gol, Gonzalez tak pernah lelah untuk berusaha menjebol gawang lawan.

Sejak berkiprah di Indonesia lima tahun lalu, tak kurang dari 130 gol telah dilesakkan Gonzalez. Bahkan dalam tiga musim terakhir dia sukses menjadi top scorer di kompetisi Indonesia. Musim ini, di edisi perdana Indonesia Super League (ISL), pria berusia 31 itu berpeluang mengulang torehannya.

Prestasinya semakin lengkap dengan mengantarkan Persik Kediri ke tangga juara Liga Indonesia 2006. Jadi, dari sisi prestasi, Gonzalez merupakan contoh sukses pemain asing di kompetisi Indonesia. ”Saya harus bermain maksimal untuk klub yang menggaji saya. Saya tidak perlu merasa takut kalau harus mendapatkan luka karena tugas di lapangan,’’ katanya.

Karakter pembunuh yang ditunjukkan Gonzalez di atas rumput hijau, ternyata bertolak belakang dengan kesehariannya di luar lapangan. Pemain yang memutuskan masuk Islam sejak lima tahun lalu itu adalah pribadi yang tak banyak omong. Gonzalez adalah sosok yang lembut bagi istri dan empat anaknya.

Sikapnya bersahaja dan tidak banyak tingkah. Ketika senggang, bukan tempat hiburan yang ditujunya. Adalah kamar tidur yang menjadi tempat favorit bagi Gonzalez. Bersama buah hatinya, Gonzalez berbagi kebahagian dengan bercanda gurau di kamar sambil menonton tayangan televisi. ’’Kalaupun dia keluar, paling banter main ke kolam renang bareng anak-anak,’’ tutur Eva Siregar, wanita yang telah merajut bahtera rumah tangga dengan Gonzalez sejak 23 Oktober 2003.

Saking enggannya keluyuran plus besarnya rasa sayang kepada keluarga, Gonzalez pun melakukan kebiasaan yang mungkin tak dibayangkan pecinta bola selama ini. Selama bermain di Persik, Gonzalez hampir tidak pernah menetap di Kediri. Gonzalez selalu berangkat latihan dari rumahnya yang terletak di kawasan Surabaya Barat.

Aktivitas yang tentu membawa konsekuensi yang tidak bisa dibilang ringan. Pemain kelahiran 30 Agustus 1977 itu harus sudah berangkat ke tempat latihan pukul 03.00 WIB. Gonzalez baru kembali menjejakkan kaki di rumah sekitar pukul 21.00 WIB.

Sesampai di rumah, bukan berarti dia langsung berbaring tidur. Gonzalez melakukan rutinitas makan malam bersama keluarga dan baru beristirahat menjelang tengah malam. Jadi, parktis dia hanya tidur malam sekitar tiga jam saja. ”Saya rela melakukan ini semua karena saya tidak ingin berjauhan dengan keluarga,” ujar pemain memiliki nama muslim Mustofa Habibi tersebut..

Lantas, adakah resep khusus bagi Gonzalez bisa tetap fit dan tidak kehilangan konsentrasi dalam bertanding. Meski tiap hari dia melakoni aktivitas yang melelahkan tersebut? ”Yang jelas ketenangan hati yang bersumber dari keluarga. Satu hal lagi, saya selalu meminum teh mate, teh tradisional dari Uruguay,” akunya.




Read More..

01 Oktober 2008

Tuhan Menegur Lewat Perceraian


Kurniawan Dwi Yulianto tidak seperti Ramang yang lahir dari Makassar. Daerah yang punya tradisi kuat akan sepak bola. Dia bukanpula seperti Ajat Sudrajat yang tumbuh di Bandung. Kota yang memiliki ikon sepak bola Jawa Barat bernama Persib Bandung.

Kurniawan juga tidak berjalan layaknya Ricky Yakobi yang berkembang di Medan. Sebuah wilayah yang menjadi produsen utama pemain handal sepak bola Indonesia. Dia tidak pula seperti Syamsul Arifin, Arek Malang yang besar di Surabaya. Kawasan yang masyarakatnya akrab dan gila dengan si kulit bundar.

Kurniawan hanya lahir dari sebuah daerah di seberang Jogjakarta bernama Magelang. Daerah yang punya andil dalam lahirnya PSSI. Kendati begitu, Magelang tetap tidaklah sama seperti Makassar, Surabaya, Bandung, dan Medan. Magelang bukanlah poros utama kekuatan sepak bola tanah air seperti yang disandang empat kota tersebut.

Meski begitu, Kurniawan tak kalah jika dibandingkan dengan mereka. Kurus-begitu Kurniawan akrab disapa-punya talenta dan kualitas yang tidak jauh berbeda dengan bintang-bintang asal kota itu.

Nama Kurniawan bahkan begitu tersohor di jagat sepak bola Asia pada pertengahan 90-an. Sebab, kala itu pemain yang lahir 13 Juli 1976 itu berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu dari sedikit pemain Asia yang bermain di Eropa. Kurniawan pernah berbaju Samdoria junior. Kurniawan juga sempat berkiprah di Liga Swiss bersama FC Luzern pada musim 1995/1996.

Untuk urusan di tim nasional Indonesia, catatan Kurniawan tak kalah apik. Dia selalu menjadi langganan utama sejak tahun 1993 hingga 2004 dengan menyandang kostum nomor 10. Dari data yang dilansir situs Wikipedia, Kurniawan bahkan tercatat sebagai pemain dengan caps terbanyak di skuad Merah Putih. Kurniawan telah tampil 60 kali. Kurus juga dibukukan sebagai penyumbang gol terbanyak dengan donasi 33 gol.

Tapi, tak ada gading yang tak retak. Begitupula dengan Kurniawan. Pemain yang menekuni sepak bola dari Sekolah Sepak Bola Wajar Magelang itu pernah terjerat kasus Narkoba. Bahkan Kurniawan juga diidentifikasi sebagai pemain indisipliner, ugal-ugalan, dan akrab dengan dunia malam.

Karirnya pun merosot. Rumah tangga yang dibinanya bersama Kartika Dewi berantakan. Kurus harus bercerai dengan Kartika Dewi. Dia juga harus merelakan hak asuh dua buah hatinya Tazkia Aulia dan Anissa Azzahra kepada Kartika. ”Saat itu saya masih muda. Jadi masih labil,” ujarnya.

Di jauhi prestasi dan berpisah dengan orang-orang tercinta membuat Kurniawan sadar. Pemain jebolan Diklat Salatiga itupun merasa ditegur Tuhan lewat perceraiannya dengan Kartika. Lambat laun, Kurniawan pun berusaha melepaskan diri dari jeratan Narkoba. ”Hal yang paling terasa saat memutuskan berhenti, saya menyadari bahwa sepak bola adalah urat nadi hidup saya. Sepak bola merupakan hal yang berharga,” akunya.

Kurniawan menambahkan bahwa ada banyak hal yang dia korbankan demi meniti karir di sepak bola. Baik itu sekolah, keluarga, masa indah bersama teman-teman di Magelang. Dengan kesadaran itu, Kurniawan mencoba belajar lagi. Kurus kembali mencoba menikmati sepak bola sebagai kegemarannya yang mendatangkan tawa dan kebahagiaan. Kegemaran yang tentunya seperti yang dirasakan kala bergelut dengan si kulit bundar di tanah kelahirannya. Kegemaran layaknya di Diklat Salatiga sebelum dia bergabung PSSI Primavera tahun 1993.

Kurniawan sadar, rasa sesal dan keputusannya untuk sembuh tidak bakal membawanya menyandang seragam Samporia kembali. Seragam yang nyaris membawanya bermain di Seria A ketika Sampodria dilatih Sven Goran Eriksson musim 1996 silam.

Tapi, rasa sesal itu perlahan mulai menghadirkan prestasi lagi ke dalam dekapan Kurniawan. Ya, Kurniawan sudah merasakan nikmat gelar juara Liga Indonesia dua kali. Pertama bersama PSM Makassar musim 2000. Empat tahun kemudian barsama Persebaya Surabaya.

Di musim 2007 bersama Persitara Jakarta Utara, Kurniawan bahkan telah menunjukkan tajinya kembali sebagai striker. Kecerdikan dalam menipu lawan, sentuhan, dan kecepatannya dalam bermain bola kembali terlihat menawan. Urusan merobek jala lawan, Kurniawan juga kembali trengginas.

Koleksi golnya musim ini memang jauh dibelakang bomber Persik Kediri Christian Gonzalez (32 gol). Tapi, dibanding dengan striker-striker yang kini menjadi langganan Tim Nasional, Kurniawan tidak kalah bersaing. Hingga akhir Liga Indonesia 2007, pemain bertinggi 173 centimeter itu telah menyumbang 12 gol bagi Persitara.

Donasi golnya hanya selisih satu gol dengan koleksi Boaz Salossa. Atau terpaut lima gol milik Bambang Pamungkas (17 gol) dan Aliyudin. Namun, koleksi Kurniawan itu mampu melewati perolehan striker-striker lokal lainnya. Sebut saja seperti Saktiawan Sinaga, Rudi Widodo, Budi Sudarsono, dan Rahmat Rivai.

”Saya sudah susah payah meniti karir di sepak bola, karena itu mengapa saya harus membuangnya percuma. Saya ingin sampai mati di sepak bola. Sepak bola juga telah menjadikan saya berguna bagi bangsa dan saya ingin kembali seperti itu,” katanya.

(Dimuat Jawa Pos 6 Januari 2008)



Read More..

30 September 2008

Berebut Gelar Disaat Tak Nyaman


Hari ini (Jumat, 7 September 2007) di Stadion Manahan, Solo bakal dimulai pertarungan merebut gelar juara Divisi I musim 2007. Empat tim Persibo Bojonegoro, PSP Padang, Persikad Depok, dan Mitra Kukar akan berpacu menjadi yang terbaik. Keempatnya akan beradu kemampuan dalam kondisi yang sangat ”tidak nyaman”.


Rabu 16 Agustus 2006. Waktu itu Persebaya Surabaya bentrok dengan Persis Solo di partai final Divisi I musim 2006 di Stadion Brawijaya, Kediri. Hasilnya Green Force-julukan Persebaya-sukses menahbiskan diri sebagai juara. Persebaya naik podium utama usai menang 2-0 berkat gol Nova Ariyanto dan Ever Barientos.

Prestasi Persebaya memang pantas dibukukan dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sebab, itu gelar kedua dalam rentang lima tahun terakhir. Tapi, ada hal lain yang juga tidak boleh dilupakan. Laga final antara Persebaya kontra Persis kala itu terjadi dalam kondisi yang sangat tidak nyaman. Sebab, keduanya berjuang di tengah-tengah inkonsistensi PSSI.

Jelang partai final, PSSI mengumumkan bahwa tim yang promosi ke Divisi Utama tidak hanya empat sesuai regulasi. Tapi, ada delapan tim yang naik kasta dari Divisi I. Disamping itu, otoritas sepak bola nasional tersebut juga menghapuskan degradasi Divisi Utama.

Bayangkan, betapa terlukanya Persebaya dan Persis waktu itu. Sebab, perjuangan dan miliaran rupiah yang telah mereka habiskan ternyata tidak berbanding lurus dengan penghargaan dari PSSI yang begitu mudahnya merubah regulasi.

Nah, ketidaknyamanan musim lalu ternyata kembali terulang tahun ini. Sepekan jelang babak semifinal Divisi I yang dihajat hari ini (Jumat, 7 September 2007) di Stadion Manahan, lagi-lagi PSSI menabur benih inkonsistensi. Lewat suara sang Ketua Umum Nurdin Halid, PSSI mengutarakan wacana perubahan format Divisi Utama musim 2008.

Dimana nantinya besar kemungkinan tidak hanya delapan tim yang promosi ke Divisi Utama sesuai Manual Liga Indonesia (MLI) 2007. Tapi, bisa jadi ada 16 sampai 18 tim Divisi I yang mendapat tiket promosi. (Akhirnya wacana tersebut tidak sekedar wacana. Tapi, benar terjadi)
”Perjuangan kami sangat berat. Biaya yang kami keluarkan tidak kecil. PSSI harusnya konsisten. Harusnya mereka membuat aturan sebelum kompetisi, jangan disaat seperti ini,” ujar Gusnul Yakin, pelatih Persibo.

Kekecewaan yang sudah sepatutnya. Untuk menggenggam tiket semifinal sekaligus promosi ke Divisi Utama memang tidaklah mudah. Sebab, masing-masing tim harus melewati tidak kurang dari 15 pertandingan. Dimana, dalam kurun waktu itu tekanan demi tekanan terus saja mengalir. Baik itu yang datang dari pihak lawan atau berasal dari internal yang berwujud tuntutan kemenangan.

”Demi kebanggaan untuk sementara kami mengesampingkan terlebih dulu wacana yang ada. Kini kami konsentrasi dulu untuk merengkuh juara,” aku Gusnul. ”Kami tidak ambil pusing dengan wacana penambahan tim promosi ke Divisi Utama. Yang terpenting adalah rasa bangga bisa lolos sesuai dengan atauran Manual Liga saat ini,” sambung arsitek Mitra Kukar Mustaqim.

Meski terlihat acuh dengan wacana PSSI. Sejatinya ungkapan tersebut bak sebuah simbol kekecewaan akibat perjuangan Mitra Kukar seakan terkebiri dengan munculnya wacana perubahan format Divisi Utama musim depan. ”Seharusnya memang sesuai aturan,” sahut Yusman Kasim, ketua umum PSP Padang.
Ah PSSI, tetap saja tak mau berubah. Lagi-lagi klub yang jadi korban.

(Dimuat Jawa Pos 7 September 2007)








Read More..

29 September 2008

Harusnya Memberi Bukan Membebani

Pertandingan sepak bola tanpa kehadiran penonton atau suporter jelas terasa hambar. Suporter adalah elemen penting yang bisa membuat arena pertandingan menjadi lebih berwarna. Begitupula bagi pertandingan di Liga Indonesia. Pentas sepak bola paling akbar di Indonesia (Ligina) tersebut juga selalu haus akan kehadiran suporter. Tapi, Ligina terbilang beruntung. Sebab di setiap pertandingan, stadion tak pernah sepi peminat.

Beribu-ribu suporter senantiasa berduyun-duyun membanjiri stadion. Uniknya mereka tidak hanya datang untuk menonton. Tapi, para suporter selalu menikmati pertandingan dengan bertingkah atraktif di tribun. Entah itu menabuh tetabuhan yang menggugah semangat, bernyanyi, atau menari.

Pokoknya, aksi mereka membuat suasana pertandingan lebih indah. Aksi atraktif itu sendiri sudah mulai lahir diakhir 90-an. Munculnya Aremania-Suporter Arema Malang-dan Pasopati-suporter Persis Solo-sebagai pionernya. Sampai kini aksi mereka pun tetap bisa dinikmati hampir di seantero stadion di Indonesia.

Hanya saja, dewasa ini sebagian besar kelompok tersebut mulai tercerabut dari esensi sejatinya sebagai suporter. Memang kelompok suporter itu tetap atraktif di tribun. Tapi, keberadaan mereka saat ini justru tidak lagi menguntungkan bagi klub. Mereka justru menjadi beban berat bagi klub. Sebab, untuk masuk stadion mereka lebih sering ”ngemis” bantuan finansial dari klub.

”Dari pengamatan saya, untuk masuk stadion kelompok suporter lebih sering meminta keringanan harga tiket alias harganya dipotong,” papar salah seorang kawan dari Bandung. ”Mata rantai seperti itu (pemotongan tiket, red) yang ingin kami potong,” begitu penegasan yang selalu didengungkan manajemen Persebaya untuk mendongkrak peningkatan jumlah pemasukan.

Diakui atau tidak, kenyataan bahwa suporter tidak lagi dalam khitahnya dalam mensuport memang benar adanya. Apalagi, mereka sebenarnya bukan hanya selalu meminta potongan harga tiket. Ketika mereka mendampingi tim kesayangannya tur ke luar kandang, tidak jarang mereka malah menggunakan dana dari klub. Bukan dari kantongnya sendiri.

”Itu adalah persepsi yang keliru dan memalukan. Suporter itu harusnya memberi, bukannya malah meminta. Untuk ngurus tim, manajemen itu sudah berat. Suporter harusnya tidak menambah beban mereka,” keluh Mayor Haristanto, pendiri Pasopati.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah ulah anarkis yang juga kerap mereka pertontonkan. Tidak sedikit para suporter itu terkadang berulah dengan melakukan teror berlebihan terhadap tim tamu maupun perangkat pertandingan. Baik itu melakukan pelemparan maupun pemukulan. Bahkan, tak jarang lebih dari itu.

Alhasil, klub akhirnya harus menanggung tindakan nakal tersebut karena Komisi Disiplin (Komdis) PSSI selalu menjatuhkan sanksi kepada klub akibat ulah anarkis suporter tersebut. Hukuman itu bisa berupa denda puluhan juta. Dan tidak sedikit yang harus dihukum menggelar partai usiran tanpa penonton. Kalau sudah begitu tentu klub lagi-lagi harus merogoh koceknya untuk membayar mahalnya tindakan anarkis para suportenya.

”Benang kusut ini harus segara diurai. Tonggak utama perubahan ada pada suporter itu sendiri. Mereka harus kembali ke esensi sejatinya suporter yang punya arti mensuport, memberi,” seru Mayor Haristanto.

Ungkapan Mayor tidak salah. Suporter memang harus independen. Sehingga mereka tidak membebani pembiayaan klub. Dengan independensinya, suporter juga nantinya bisa kembali melakukan kritik membangun kepada klub. Mereka bisa mensuport klub tidak hanya secara moral, tapi juga dari sisi finansial. Suport paling kecil yang bisa dilakukan tentu saja dengan membeli karcis masuk stadion. Bagaimana klub bisa tetap menjalankan roda kompetisi, kalau suporternya tidak ”memberi”, tapi justru membebani?

(Dimuat Jawa Pos pada September 2007)




Read More..

Purwanto di Sisi Lain (2)




Penyemai Kenyamanan Stadion Brawijaya
Menyebut nama Purwanto, orang pasti lebih mengenalnya sebagai seorang wasit terbaik di kancah sepak bola nasional. Maklum saja, kiprahnya di atas lapangan saat memimpin pertandingan kerap disorot media baik itu cetak maupun elektronik.

Tapi, kalau menyebut Purwanto sebagai aktor penting di balik hijaunya rumput Stadion Brawijaya, Kediri jelas tak banyak yang tahu. ”Jangankan masyarakat umum, para pemain yang biasa main di stadion ini (Stadion Brawijaya, red) saja banyak yang tidak tahu kok Mas,” tutur Purwanto sembari mengumbar senyum.

Memang profesi wasit sudah jauh lebih dulu ditekuni Purwanto. Namun, pekerjaannya sebagai penjaga Stadion Brawijaya tidak bisa dibilang pendek. Sudah sejak lima tahun lalu Purwanto bertugas menjaga keasrian home base Persik Kediri tersebut. Atau tepatnya sejak dia diangkat sebagai PNS di lingkungan Pemkot Kediri tahun 2002 silam.

Totalitasnya ketika memimpin sebuah pertandingan, juga diterapkan Purwanto kala bertugas sebagai penjaga Stadion Brawijaya. Meski posisinya sebagai kepala stadion, tapi dia tidak pernah menganggap pangkatnya lebih tinggi dibanding sembilan patner kerjanya.

Bersama sembilan rekan kerjanya tersebut, Purwanto tak pernah segan untuk turun langsung ke lapangan. Baik itu ikut memotong, memupuk, maupun menyiram stadion kebanggaan masyarakat Kota Tahu tersebut. ”Karenanya saya harus terlibat aktif menjalankan tugas untuk merawat dan menjaga Stadion Brawijaya yang sudah menjadi tanggung jawab saya ini,” papar Purwanto.

Itu sebabnya Purwanto tak pernah malu turun langsung ke lapangan. Tak pernah takut dengan guyuran terik matahari. Tak pernah lelah menjelajah tiap sudut Stadion Brawijaya. ”Toh, kalau pemain merasa nyaman saat bertanding dan penonton bisa menyaksikan pertandingan dengan nikmat, hati kita juga yang senang,” imbuhnya.

(dimuat Jawa Pos 10 Mei 2007. Ilustrasi : Budiono, Jawa Pos)


Read More..

26 September 2008

Purwanto di Sisi Lain (1)

Awalnya Bermimpi Jadi Sopir Bus



Anak-anak selalu menggelayutkan asanya setinggi langit. Imajinasi mereka tak pernah berhenti berkhayal akan indahnya masa depan. Entah itu nantinya jadi dokter, insinyur, polisi, tentara, atau pegawai negeri.

Purwanto kecil pun seperti itu. Dari kampung Kayen, Plemahan, Kediri, Purwanto kecil menyimpan mimpi indah akan hari depannya. Cuma, cita-cita Purwanto tak segemerlap anak-anak kebanyakan. Cita-citanya ternyata sangat sederhana. ”Waktu SD saya bercita-cita jadi sopir bus. Saya ingin berpergian ke mana saja secara gratis,” ungkapnya

Impian itu ternyata bukan sekadar angan-angan kosong tanpa harus diwujudkan. Purwanto ternyata berhasrat besar untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya tersebut. Karenanya, selepas lulus SMEA YP 17 Pare, Kediri, Purwanto pun berusaha keras menjadikan nyata impian yang telah lama mengendap dipikirannya.

Tanpa rasa sungkan-sungkan, Purwanto muda pun melamar sebagai kondektur bus Harapan Jaya. Perusahan bus asal Tulungagung yang biasa melayani trayek Tulungagung-Surabaya. ”Sayang saya gagal diterima jadi kondektur di tempat tersebut. Sebab, meski lulus tes, namun saya tidak bisa memenuhi syarat untuk menyetor uang jaminan,” akunya.

Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Kata-kata bijak itu dipegang betul oleh Purwanto kala gagal. Makanya, saat dinyatakan gagal sebagai kondektur bus Harapan Jaya, bapak dua anak tersebut tak larut dalam kesedihan. Purwanto justru terlecut untuk mewujudkan impiannya untuk jalan-jalan gratis dengan cara yang lain.

Menjadi wasit. Jalan itu akhirnya dipilih putra pasangan Sumowinoto-Mastain tersebut sebagai cara lain untuk mewujudkan harapan kecilnya. Pilihan Purwanto ternyata tidak meleset. Dengan menekuni profesi wasit, dia akhirnya bisa jalan-jalan ke seantero negeri tanpa mengeluarkan sepeserpun uang.

Bahkan, dia melakoni perjalanan tersebut tak hanya menggunakan bus. Tapi, juga naik kendaraan yang lebih mewah bernama pesawat terbang. ”Saya sangat bersyukur. Gagal jadi sopir bus ternyata saya tetap bisa ke mana-mana gratis dengan menjadi wasit. Naik pesawat lagi,” katanya serasa melepaskan tawa.

Hingga kini Purwanto sudah tidak bisa lagi menghitung telah berapa kali dia berpergian gratis. Lebih-lebih yang menggunakan burung besi. Tapi, satu yang pasti, Purwanto tidak pernah lupa saat pertama dia naik pesawat. ”Peristiwa itu terjadi saat Liga Indonesia pertama. Waktu itu, saya mendapat tugas sebagai asisten wasit dalam pertandingan PSM Makassar melawan Barito Putra di Makassar,” ingatnya.



Read More..