25 Oktober 2008

Sang Guru Menimba Ilmu Bersama Anaknya

Di blantika sepak bola nasional, nama M. Basri bisa disebut sebagai mahaguru. Betapa tidak, pria asal Makassar itu sudah berkecimpung di pentas sepak bola nasional di tiga generasi berbeda.
Sudah banyak pemain hebat yang besar dalam polesannya.

Bahkan, sudah banyak anak didiknya yang kini menjadi pelatih handal di tanah air. Entah itu anak didik yang pernah dibesutnya di Niac Mitra Surabaya, Persebaya Surabaya, Arema Malang, atau di tim nasional (Timnas). Kendati begitu, M. Basri tak pernah berhenti untuk menimba ilmu sepak bola. Dia tidak pernah rela membiarkan semangat belajarnya padam. Om Basri-begitu saya memanggilnya-tetap bersemangat untuk terus menimba ilmu, walau usianya tahun ini nanti genap 66 tahun.

Bilangan usia yang sudah tentu saja terbilang uzur. ”Ini adalah tuntutan profesi. Jadi saya harus jalani proses belajar ini terus-menerus,” tutur Om Basri ketika berbincang dengan saya di Lapangan Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis 10 April 2008 silam.

Karena itupula, Om Basri tidak pernah merasa malu untuk belajar. Meski dalam proses tersebut dia harus berada satu kelas dengan mantan murid-muridnya. Harus berdiskusi dengan anak-anak yang dulu dibimbingnya. Nah, cerminan itu seperti halnya yang saya saksikan di kursus kepalatihan lisensi A AFC di Rawamangun, April silam.

Dimana, Om Basri belajar bersama-sama dengan beberapa pelatih yang pernah diasuhnya. Ada nama-nama anak didiknya di Niac Mitra seperti Riono Asnan, Suharno, Yudi Suryata, Jaya Hartono, Hanafing, atau Subangkit. Terdapat pula Herry Kiswanto yang pernah dipolesnya di Timnas. Atau Agus Yuwono yang menjadi asistennya di Persela Lamongan. ”Saya tidak risau dengan situasi ini. Sebab kita memang sama-sama membutuhkan ini (kursus lisensi A AFC, red),” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan mereka justru dijadikan motivasi. Sebagai orang yang pernah mengajari mereka, Om Basri merasa tidak boleh kalah dengan mereka. Karenanya, pelatih yang empat kali mencecap gelar juara Galatama itu jadi lebih giat dan bersemangat dalam mengikuti kursus kepelatihan tersebut. Setiap pelajaran yang diberikan instruktur pun diresapi dengan serius oleh Om Basri.”Masak kalah sama yang lebih muda. Kan tidak enak,” selorohnya.sambil tersenyum.

Selain itu, keberadaan Riono Asnan dkk juga membuat M. Basri lebih nyaman. Situasi di tempat kursus, dirasaknya seperti berada di tengah-tengah keluarganya sendiri. ”Saya merasa bukan di Jakarta, tapi di Surabaya. Di mes Niac Mitra,” akunya.
Read More..

20 Oktober 2008

Mencari Solusi Atas Krisis


Perjalanan kompetisi sepak bola nasional musim ini terancam berhenti sebelum berakhir. Banyak klub yang mulai berteriak tak kuat melanjutkan perjalanan. Mereka dililit problem keuangan. Jika tak ada solusi, ancaman itu bisa jadi kenyataan. Lalu, apa solusinya?

Nasi telah menjadi bubur. Kompetisi sudah berada di tengah jalan. Entah itu Indonesia Super League (ISL) maupun Divisi Utama 2008/2009. Dan banyak klub yang telah mengontrak pemain dengan tidak rasional. Dimana, meski uang belum didapat, banyak klub tetap mengikat kontrak pemain dengan nilai tinggi.

Kini masalah menghadang klub. Utamanya klub-klub plat merah. Gaji pemain terlambat dibayar. Bahkan, ada yang belum dibayar. Tak sedikit pula yang berhutang agar tetap bisa melakoni pertandingan. Ada juga klub yang siap melego pemainnya. Situasi ini semua karena dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang mereka harapkan tidak mengucur.

Eksistensi kompetisi musim ini pun ikut terancam. Nah, di tengah situsi seperti ini, saling menyalahkan tentu bukan sikap yang arif. ”Mundur di tengah kompetisi jelas bukan sikap yang sportif,” sebut Iwan Syafe’i, tokoh sepak bola asal Jawa Timur.

Demi kelangsungan kompetisi, solusi pun harus ditemukan. Jika tidak, maka kompetisi musim ini bisa jadi benar-benar berhenti sebelum berakhir. Lantas apa solusi untuk keluar dari krisis ini?

Arif Budi Santoso coba menawarkan solusi. Manajer PKT Bontang itu mengajak semua klub duduk bersama. Berpikir untuk merumuskan cara terbaik memangkas pengeluaran klub. Sasaran utamanya adalah pos untuk pembiayaan kontrak pemain. Sebab, anggaran kontrak pemain merupakan pengeluaran terbesar klub. ”Agak repot memang. Sebab, semua sudah tertuang dalam kontrak. Mengubahnya jelas sulit,” kata Arif.

Namun, Arif memandang perubahan itu masih bisa dijalankan. Tentunya ada beberapa syarat. Pertama, ada kesepakatan semua klub. Kedua, klub harus komitem menjalankannya. Ketiga, tentu tidak terlalu merugikan pemain. Dalam artian antara kepentingan klub dan hak pemain tidak timpang. ”Jika semua klub bersuara sama, saya pikir pemain pasti mengikutinya. Namun hal itu juga harus diperkuat dengan regulasi dari PSSI dan BLI,” urai Arif.

Solusi lain disodorkan Iwan Syafe’i. Manajer Bentoel Galatama di era 80-an itu berpendapat bahwa prestasi adalah jawaban untuk keluar dari krisis. Dengan prestasi, klub bisa menjual diri. Baik kepada sponsor maupun penonton. Jika klub selalu tampil apik, penonton pasti akan membanjiri stadion.

Dengan begitu, sponsor pun bakal tertarik masuk ke klub. Dan kucuran APBD tak lagi diperlukan. ”Tapi, kondisi itu harus diimbangi dengan manajemen yang baik. Jika dikelola dengan baik, sumber itu bisa diandalkan untuk menghidupi klub,” papar Iwan.

Solusi Iwan juga harus diimbangi oleh kedewasaan semua komponen kompetisi. Dalam konteks ini, semua komponen kompetisi harus mampu menciptakan situasi kondusif. Jangan lagi ada aksi anarkis.

”Dan yang perlu dilakukan lagi adalah membuka sekat akan aturan sponsorship. Perubahan aturan sponsorhip harus dilakukan. Perubahan itu sebagai salah satu langkah mengurai keadaan (krisis keuangan, red) saat ini,” usul Iwan.

Aturan yang dimaksud Iwan tidak lain ada larangan bagi klub menggandeng sponsor yang sejenis dengan sponsor kompetisi. Seperti diketahui, ajang Indonesia Super League (ISL) musim ini disponsori PT Djarum. Dengan begitu, klub tidak diperkenankan menggaet perusahan rokok lain sebagai sponsornya.

Menurut Iwan, aturan itu jelas menyulitkan klub. Sebab, perusahaan jenis tersebut cukup potensial menjadi sponsor. ”Setiap produk, apalagi rokok, itu punya pangsa pasar sendiri. Jadi, BLI tidak perlu melakukan pembatasan. Buka lebar-lebar aturan sponsor biar klub bisa hidup,” jabarnya.

Jika tetap berharap kepada APBD, Masfuk menawarkan solusinya. Ketua Umum Persela Lamongan itu menyebut klub harus berani transparan dalam penggunaannya. Klub harus berani mengikuti aturan yang ada. Sekaligus juga harus berani menegakkan aturan. ”Kalau niatnya bagus, kenapa harus takut,” ujarnya.

Ketakutan menggunakan dan APBD dinilainya tidak beralasan. Sebab, tidak ada larangan khusus penggunaannya. Yang ada hanyalah aturan dalam menggunakannya. Menurut Masfuk, setiap klub harus jeli membaca dan menerapkan aturan itu. Jika ada ketakutan menggunakannya justru hal itu menimbulkan pertanyaan.

Masfuk menyebutnya pasti ada situasi yang tidak kondusif. Terutama menyangkut hubungan eksekutif, legislatif, dan masyarakat. Untuk itu, pria yang juga Bupati Lamongan tersebut menyarankan agar pengurus klub harus menciptakan situasi yang kondusif di daerahnya. Dengan begitu, klub akhirnya tetap bisa menggunakan dana APBD. ”Klub sepak bola adalah sarana promosi dan memasarkan daerah,” sebutnya.

Menurutnya, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan, jika daerah harus melakukan promisi lewat iklan di telivisi. Padahal, melalui sepak bola, biaya jauh lebih kecil. ”Ingat, kalau tim kita ditayangkan langsung itu sama artinya kita promosi daerah. Nah, biayanya kan lebih rendah, jika dibanding kita harus beriklan. Itu yang harus jeli dibaca,” terang Masfuk.

Sekarang, bola ada di tangan masing-masing klub. Sebab, seperti dikatakan Direktur Kompetisi Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) Joko Driyono, klublah yang tahu bagaimana caranya keluar dari krisis finansial saat ini. ”Mereka yang merasakan, jadi merakalah yang tahu pasti obatnya,” ucap Joko.



Read More..

Dua Wajah Gonzalez


Christian Gonzalez. Segores nama yang bagi saya sangat tidak bersahabat bagi penjaga gawang lawan. Striker asal Uruguay tersebut begitu liar untuk urusan mencetak gol. Ibarat mesin gol, Gonzalez tak pernah lelah untuk berusaha menjebol gawang lawan.

Sejak berkiprah di Indonesia lima tahun lalu, tak kurang dari 130 gol telah dilesakkan Gonzalez. Bahkan dalam tiga musim terakhir dia sukses menjadi top scorer di kompetisi Indonesia. Musim ini, di edisi perdana Indonesia Super League (ISL), pria berusia 31 itu berpeluang mengulang torehannya.

Prestasinya semakin lengkap dengan mengantarkan Persik Kediri ke tangga juara Liga Indonesia 2006. Jadi, dari sisi prestasi, Gonzalez merupakan contoh sukses pemain asing di kompetisi Indonesia. ”Saya harus bermain maksimal untuk klub yang menggaji saya. Saya tidak perlu merasa takut kalau harus mendapatkan luka karena tugas di lapangan,’’ katanya.

Karakter pembunuh yang ditunjukkan Gonzalez di atas rumput hijau, ternyata bertolak belakang dengan kesehariannya di luar lapangan. Pemain yang memutuskan masuk Islam sejak lima tahun lalu itu adalah pribadi yang tak banyak omong. Gonzalez adalah sosok yang lembut bagi istri dan empat anaknya.

Sikapnya bersahaja dan tidak banyak tingkah. Ketika senggang, bukan tempat hiburan yang ditujunya. Adalah kamar tidur yang menjadi tempat favorit bagi Gonzalez. Bersama buah hatinya, Gonzalez berbagi kebahagian dengan bercanda gurau di kamar sambil menonton tayangan televisi. ’’Kalaupun dia keluar, paling banter main ke kolam renang bareng anak-anak,’’ tutur Eva Siregar, wanita yang telah merajut bahtera rumah tangga dengan Gonzalez sejak 23 Oktober 2003.

Saking enggannya keluyuran plus besarnya rasa sayang kepada keluarga, Gonzalez pun melakukan kebiasaan yang mungkin tak dibayangkan pecinta bola selama ini. Selama bermain di Persik, Gonzalez hampir tidak pernah menetap di Kediri. Gonzalez selalu berangkat latihan dari rumahnya yang terletak di kawasan Surabaya Barat.

Aktivitas yang tentu membawa konsekuensi yang tidak bisa dibilang ringan. Pemain kelahiran 30 Agustus 1977 itu harus sudah berangkat ke tempat latihan pukul 03.00 WIB. Gonzalez baru kembali menjejakkan kaki di rumah sekitar pukul 21.00 WIB.

Sesampai di rumah, bukan berarti dia langsung berbaring tidur. Gonzalez melakukan rutinitas makan malam bersama keluarga dan baru beristirahat menjelang tengah malam. Jadi, parktis dia hanya tidur malam sekitar tiga jam saja. ”Saya rela melakukan ini semua karena saya tidak ingin berjauhan dengan keluarga,” ujar pemain memiliki nama muslim Mustofa Habibi tersebut..

Lantas, adakah resep khusus bagi Gonzalez bisa tetap fit dan tidak kehilangan konsentrasi dalam bertanding. Meski tiap hari dia melakoni aktivitas yang melelahkan tersebut? ”Yang jelas ketenangan hati yang bersumber dari keluarga. Satu hal lagi, saya selalu meminum teh mate, teh tradisional dari Uruguay,” akunya.




Read More..

01 Oktober 2008

Tuhan Menegur Lewat Perceraian


Kurniawan Dwi Yulianto tidak seperti Ramang yang lahir dari Makassar. Daerah yang punya tradisi kuat akan sepak bola. Dia bukanpula seperti Ajat Sudrajat yang tumbuh di Bandung. Kota yang memiliki ikon sepak bola Jawa Barat bernama Persib Bandung.

Kurniawan juga tidak berjalan layaknya Ricky Yakobi yang berkembang di Medan. Sebuah wilayah yang menjadi produsen utama pemain handal sepak bola Indonesia. Dia tidak pula seperti Syamsul Arifin, Arek Malang yang besar di Surabaya. Kawasan yang masyarakatnya akrab dan gila dengan si kulit bundar.

Kurniawan hanya lahir dari sebuah daerah di seberang Jogjakarta bernama Magelang. Daerah yang punya andil dalam lahirnya PSSI. Kendati begitu, Magelang tetap tidaklah sama seperti Makassar, Surabaya, Bandung, dan Medan. Magelang bukanlah poros utama kekuatan sepak bola tanah air seperti yang disandang empat kota tersebut.

Meski begitu, Kurniawan tak kalah jika dibandingkan dengan mereka. Kurus-begitu Kurniawan akrab disapa-punya talenta dan kualitas yang tidak jauh berbeda dengan bintang-bintang asal kota itu.

Nama Kurniawan bahkan begitu tersohor di jagat sepak bola Asia pada pertengahan 90-an. Sebab, kala itu pemain yang lahir 13 Juli 1976 itu berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu dari sedikit pemain Asia yang bermain di Eropa. Kurniawan pernah berbaju Samdoria junior. Kurniawan juga sempat berkiprah di Liga Swiss bersama FC Luzern pada musim 1995/1996.

Untuk urusan di tim nasional Indonesia, catatan Kurniawan tak kalah apik. Dia selalu menjadi langganan utama sejak tahun 1993 hingga 2004 dengan menyandang kostum nomor 10. Dari data yang dilansir situs Wikipedia, Kurniawan bahkan tercatat sebagai pemain dengan caps terbanyak di skuad Merah Putih. Kurniawan telah tampil 60 kali. Kurus juga dibukukan sebagai penyumbang gol terbanyak dengan donasi 33 gol.

Tapi, tak ada gading yang tak retak. Begitupula dengan Kurniawan. Pemain yang menekuni sepak bola dari Sekolah Sepak Bola Wajar Magelang itu pernah terjerat kasus Narkoba. Bahkan Kurniawan juga diidentifikasi sebagai pemain indisipliner, ugal-ugalan, dan akrab dengan dunia malam.

Karirnya pun merosot. Rumah tangga yang dibinanya bersama Kartika Dewi berantakan. Kurus harus bercerai dengan Kartika Dewi. Dia juga harus merelakan hak asuh dua buah hatinya Tazkia Aulia dan Anissa Azzahra kepada Kartika. ”Saat itu saya masih muda. Jadi masih labil,” ujarnya.

Di jauhi prestasi dan berpisah dengan orang-orang tercinta membuat Kurniawan sadar. Pemain jebolan Diklat Salatiga itupun merasa ditegur Tuhan lewat perceraiannya dengan Kartika. Lambat laun, Kurniawan pun berusaha melepaskan diri dari jeratan Narkoba. ”Hal yang paling terasa saat memutuskan berhenti, saya menyadari bahwa sepak bola adalah urat nadi hidup saya. Sepak bola merupakan hal yang berharga,” akunya.

Kurniawan menambahkan bahwa ada banyak hal yang dia korbankan demi meniti karir di sepak bola. Baik itu sekolah, keluarga, masa indah bersama teman-teman di Magelang. Dengan kesadaran itu, Kurniawan mencoba belajar lagi. Kurus kembali mencoba menikmati sepak bola sebagai kegemarannya yang mendatangkan tawa dan kebahagiaan. Kegemaran yang tentunya seperti yang dirasakan kala bergelut dengan si kulit bundar di tanah kelahirannya. Kegemaran layaknya di Diklat Salatiga sebelum dia bergabung PSSI Primavera tahun 1993.

Kurniawan sadar, rasa sesal dan keputusannya untuk sembuh tidak bakal membawanya menyandang seragam Samporia kembali. Seragam yang nyaris membawanya bermain di Seria A ketika Sampodria dilatih Sven Goran Eriksson musim 1996 silam.

Tapi, rasa sesal itu perlahan mulai menghadirkan prestasi lagi ke dalam dekapan Kurniawan. Ya, Kurniawan sudah merasakan nikmat gelar juara Liga Indonesia dua kali. Pertama bersama PSM Makassar musim 2000. Empat tahun kemudian barsama Persebaya Surabaya.

Di musim 2007 bersama Persitara Jakarta Utara, Kurniawan bahkan telah menunjukkan tajinya kembali sebagai striker. Kecerdikan dalam menipu lawan, sentuhan, dan kecepatannya dalam bermain bola kembali terlihat menawan. Urusan merobek jala lawan, Kurniawan juga kembali trengginas.

Koleksi golnya musim ini memang jauh dibelakang bomber Persik Kediri Christian Gonzalez (32 gol). Tapi, dibanding dengan striker-striker yang kini menjadi langganan Tim Nasional, Kurniawan tidak kalah bersaing. Hingga akhir Liga Indonesia 2007, pemain bertinggi 173 centimeter itu telah menyumbang 12 gol bagi Persitara.

Donasi golnya hanya selisih satu gol dengan koleksi Boaz Salossa. Atau terpaut lima gol milik Bambang Pamungkas (17 gol) dan Aliyudin. Namun, koleksi Kurniawan itu mampu melewati perolehan striker-striker lokal lainnya. Sebut saja seperti Saktiawan Sinaga, Rudi Widodo, Budi Sudarsono, dan Rahmat Rivai.

”Saya sudah susah payah meniti karir di sepak bola, karena itu mengapa saya harus membuangnya percuma. Saya ingin sampai mati di sepak bola. Sepak bola juga telah menjadikan saya berguna bagi bangsa dan saya ingin kembali seperti itu,” katanya.

(Dimuat Jawa Pos 6 Januari 2008)



Read More..